Balikpapan, EKSPOSKALTIM - Low Tuck Kwong kembali menduduki posisi puncak sebagai orang terkaya di Indonesia versi Forbes Real-Time Billionaires List, Senin (7/7).
Pendiri PT Bayan Resources Tbk, perusahaan tambang batu bara raksasa yang beroperasi di Kalimantan, mencatatkan kekayaan bersih mencapai US$ 27,4 miliar atau setara Rp 444 triliun (kurs Rp 16.222).
Ia kini berada di peringkat 72 daftar orang terkaya dunia, sekaligus melampaui nama-nama besar seperti Prajogo Pangestu dan duo Hartono bersaudara.
Kenaikan peringkat ini menegaskan dominasi Bayan Group di sektor energi nasional, terutama di Kalimantan Timur dan Selatan, yang menjadi wilayah inti konsesi tambangnya.
Dari Singapura ke Jantung Borneo
Low Tuck Kwong lahir di Singapura pada 17 April 1948. Ia pindah ke Indonesia pada awal 1970-an dan mendirikan PT Jaya Sumpiles Indonesia (JSI), kontraktor sipil dan kelautan. Karier tambangnya dimulai serius pada 1988 sebagai kontraktor pertambangan batu bara, dan pada 1997-1998 ia mengakuisisi tambang besar pertamanya di Kalimantan Timur, PT Gunung Bayan Pratamacoal (GBP), dan pelabuhan batu bara PT Dermaga Perkasapratama (Balikpapan Coal Terminal).
Langkah ini jadi fondasi terbentuknya PT Bayan Resources Tbk pada 2004. Perusahaan kemudian melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2008 dan berkembang pesat menjadi salah satu perusahaan tambang paling terintegrasi secara vertikal di Indonesia.
Pada 2024, Bayan mencatatkan produksi batu bara sebesar 56,9 juta ton atau sekitar 7 persen dari total produksi nasional yang mencapai 832 juta ton. Dengan volume dan efisiensi tinggi, Bayan disebut-sebut sebagai penambang batu bara nomor satu di Kalimantan.
Posisi Low Tuck Kwong sebagai orang terkaya Indonesia juga menggeser nama-nama lama dalam peta konglomerat nasional. Berikut daftar 15 besar orang terkaya Indonesia versi Forbes (per 7 Juli 2025):
Low Tuck Kwong – US$ 27,4 miliar
Prajogo Pangestu – US$ 24,8 miliar
Robert Budi Hartono – US$ 21,9 miliar
Michael Hartono – US$ 21 miliar
Sri Prakash Lohia – US$ 8,5 miliar
Otto Toto Sugiri – US$ 6,8 miliar
Agoes Projosasmito – US$ 6 miliar
Tahir & Family – US$ 6 miliar
Marina Budiman – US$ 4,8 miliar
Dewi Kam – US$ 4,8 miliar
Chairul Tanjung – US$ 4,4 miliar
Martua Sitorus – US$ 3,5 miliar
Lim Hariyanto Wijaya Sarwono – US$ 3,5 miliar
Sukanto Tanoto – US$ 3,5 miliar
Djoko Susanto – US$ 3,4 miliar
Kendati Bayan Resources menjadi andalan ekspor batu bara nasional, ekspansi tambangnya juga memunculkan catatan kritis. Sejumlah kelompok masyarakat sipil dan media lokal menyoroti persoalan lingkungan, konflik agraria, serta tekanan terhadap ruang hidup masyarakat adat di Kalimantan.
Namun bagi investor dan pelaku pasar, model bisnis Bayan yang efisien, terintegrasi, dan berorientasi ekspor tetap menjadikan Low Tuck Kwong sebagai simbol keberhasilan bisnis batu bara Indonesia.

