Tujuh puluh sembilan tahun setelah rakyat Sangasanga merebut kembali Merah Putih dari tangan Belanda, nama Bung Karno kembali dihadirkan ke ruang publik. Bukan sebagai kultus, melainkan pengingat bahwa kemerdekaan lahir dari perlawanan rakyat di daerah.
EKSPOSKALTIM, Sangasanga - Sangasanga tak sekadar mengenang masa lalu. Di tanah yang pernah mengecoh penjajah dengan seni dan senjata, Patung Bung Karno dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Sangasanga kini diresmikan sebagai penanda bahwa sejarah perlawanan tak boleh menjadi catatan usang.
Peresmian yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) ini bertepatan dengan peringatan Peristiwa Merah Putih Sangasanga, sebuah episode penting dalam perjuangan kemerdekaan yang terjadi 79 tahun silam, 27 Januari 1947.
“Ini bukan sekadar patung atau ruang publik. Ini pengingat bahwa Sangasanga punya peran nyata dalam sejarah bangsa,” ujar Wakil Bupati Kukar Rendi Solihin saat peresmian, Selasa (28/1), dikutip dari antara.
Peristiwa Merah Putih Sangasanga sendiri tercatat sebagai salah satu strategi perlawanan paling cerdik. Kala itu, para pejuang menggelar keramaian kesenian untuk mengalihkan perhatian tentara Belanda (NICA). Saat penjajah lengah, senjata dan amunisi dibagikan. Dini hari, serangan dilancarkan. Pagi harinya, bendera Belanda diturunkan oleh La Hasan, menandai Sangasanga kembali ke pangkuan Republik.
Patung Bung Karno dan RTH Sangasanga dibangun melalui kolaborasi Pemkab Kukar dan PT Pertamina Sangasanga, sebagai upaya merawat memori kolektif sekaligus membuka ruang publik yang hidup.
Rendi berharap kawasan ini tidak berhenti sebagai monumen diam, tetapi berkembang menjadi ruang belajar sejarah, pusat aktivitas seni-budaya, hingga simpul ekonomi warga melalui UMKM. Pemkab Kukar juga berencana melengkapi fasilitas penunjang, mulai dari musala, kios UMKM, hingga akses jalan.
“Kami ingin pembangunan merata. Tidak ada wilayah yang tertinggal, semua bergerak bersama,” tegas Rendi.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji mengingatkan bahwa nilai patriotisme Sangasanga harus diterjemahkan ke dalam tantangan zaman sekarang.
“Medan perjuangan hari ini berbeda. Bukan lagi senjata, tapi ketimpangan, krisis lingkungan, dan ancaman perpecahan,” ujarnya.
Sebagai daerah penyangga utama Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, kata Seno, dituntut menjadi teladan dalam ketahanan sosial dan kebangsaan. Ia menekankan bahwa sejarah Sangasanga membuktikan kemerdekaan bukan hanya cerita pusat, melainkan hasil perjuangan daerah-daerah.
“Sangasanga mengajarkan kita bahwa setiap jengkal tanah punya andil dalam tegaknya Merah Putih,” katanya.
Seno juga menitip pesan khusus bagi pelajar dan mahasiswa agar tidak berhenti menjadi penonton sejarah. Penguasaan ilmu pengetahuan, kepedulian sosial, dan keberanian menjaga harmoni disebutnya sebagai ‘jihad masa kini’ bagi generasi muda Kaltim.
Upacara peringatan ke-79 Peristiwa Merah Putih Sangasanga berlangsung khidmat, dihadiri para veteran, tokoh masyarakat, dan ratusan pelajar—sebuah simbol bahwa estafet semangat juang masih terus berjalan.


