Bontang menyiapkan proyek pabrik fatty acid senilai Rp3,77 triliun untuk mengolah sawit menjadi bahan baku industri kosmetik, sabun, plastik hingga tekstil, sekaligus membidik pasar global di tengah pertumbuhan industri oleokimia dunia yang terus meningkat.
EKSPOSKALTIM, Bontang - Pemerintah Kota Bontang, Kalimantan Timur, mulai mendorong pengembangan industri hilir kelapa sawit melalui proyek produksi asam lemak atau fatty acid yang diproyeksikan menjadi salah satu penggerak baru sektor manufaktur dan ekspor daerah.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Bontang Muhammad Aspian Nur mengatakan proyek tersebut disiapkan untuk memenuhi kebutuhan industri nasional maupun pasar internasional yang terus tumbuh.
“Proyek ini ditargetkan mampu mendongkrak nilai tambah komoditas kelapa sawit Indonesia, sekaligus memangkas ketergantungan industri dalam negeri terhadap produk impor,” ujarnya di Bontang, Jumat (22/5).
Fatty acid dipilih karena menjadi salah satu produk hilirisasi oleokimia dengan permintaan global tinggi. Produk turunannya digunakan dalam berbagai sektor industri, mulai dari kosmetik, sabun, detergen, plastik, tekstil, pelumas, hingga produk perawatan pribadi.
Menurut Aspian, konsumsi produk oleokimia dunia diperkirakan terus tumbuh rata-rata 7 persen per tahun, terutama didorong pasar Asia dan Eropa.
Ia menyebut Kalimantan Timur memiliki modal besar untuk masuk dalam rantai industri tersebut karena produksi crude palm oil (CPO) di daerah itu mencapai sekitar 4 juta ton per tahun.
Pabrik fatty acid tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi hingga 91,2 ribu ton per tahun dengan kebutuhan bahan baku sekitar 45 ribu ton CPO per tahun.
Selain memperkuat posisi Bontang sebagai kawasan industri strategis, proyek tersebut juga diproyeksikan membuka ratusan lapangan kerja baru dan memperluas kontribusi ekspor produk hilir sawit.
“Pabrik ini tidak hanya akan memperkuat posisi Bontang sebagai kota industri strategis, tetapi yang paling penting adalah menciptakan ratusan lapangan kerja baru, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memperluas kontribusi ekspor produk hilir kelapa sawit,” katanya.
Sebagai tahap awal, pemerintah telah menyiapkan skema investment project ready to offer (IPRO) untuk ditawarkan kepada investor domestik maupun global.
Proyek industri tersebut direncanakan berdiri di kawasan Kaltim Industrial Estate atau KIE Bontang yang dinilai memiliki infrastruktur pendukung cukup lengkap.
Kawasan itu berada dekat dengan Pelabuhan Lok Tuan dan Pelabuhan LNG Badak sehingga dinilai strategis untuk distribusi bahan baku maupun ekspor produk jadi.
Selain itu, kawasan industri tersebut juga telah didukung pasokan listrik hingga 80 megawatt, fasilitas air bersih, jaringan telekomunikasi, nitrogen, hingga fasilitas pengolahan limbah industri.
Pemerintah juga menyiapkan area pengolahan seluas lima hektare dan kawasan penyimpanan bahan baku maupun produk hingga 15 hektare untuk mendukung operasional industri tersebut. (ant)



