PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Minder dan Hampir Mundur, Cerita 2 Pelajar Kaltim Tembus Paskibraka Nasional

Home Berita Minder Dan Hampir Mundur, ...

Minder dan Hampir Mundur, Cerita 2 Pelajar Kaltim Tembus Paskibraka Nasional
DARI KALTIM Putri dan El-Rayyi berhasil menembus barisan paskibraka nasional.

Bontang, EKSPOSKALTIM – Awalnya minder, bahkan sempat ingin mundur karena masalah kesehatan, dua pelajar asal Kalimantan Timur justru berhasil menembus barisan terhormat Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional 2025.

Mereka adalah Putri Nur Azizah (17) dari SMK Putra Bangsa Bontang dan El-Rayyi Mujahid Faqih (17) dari SMK Kehutanan Negeri Samarinda. Keduanya akan bertugas mengibarkan bendera Merah Putih pada peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-80 di Istana Merdeka, Jakarta, 17 Agustus mendatang.

Putri mengaku sempat tidak percaya diri saat awal mengikuti seleksi. Ia merasa peserta lain jauh lebih unggul. Namun ia terus mencoba dan berhasil masuk tiga besar di tingkat Kota Bontang.

“Waktu pertama ikut seleksi di kota tuh udah minder duluan, pesertanya bagus-bagus. Tapi ternyata saya masuk peringkat tiga di Bontang,” katanya saat diwawancarai EKSPOSKALTIM, baru tadi.

Lolos ke tingkat provinsi, Putri kembali mencatatkan prestasi dengan masuk tiga besar se-Kalimantan Timur. Ia pun lolos ke seleksi nasional yang digelar di Jakarta pada 25–29 Juni 2025. Namun perjuangannya tidak mulus. Putri sempat ingin mundur karena mengalami impaksi gigi yang cukup parah. Tiga giginya harus dioperasi. Sementara peralatan medis di RSUD Bontang sedang rusak.

“Saya sudah pasrah. Sudah bilang ke Kakak Pamong, kalau memang saya enggak bisa ikut karena alat di RS rusak dan waktunya mepet banget buat operasi di luar kota, saya ikhlas diganti,” ujarnya.

Namun takdir berkata lain. Ia tetap dipanggil mengikuti seleksi nasional, dan lolos. Dukungan dari keluarga, pamong, dan teman-temannya jadi penyemangat utama.

Putri menyebut motivasi terbesarnya adalah harapan sang tante yang merawatnya sejak kecil. Ia ingin menjadi abdi negara, seorang Kowad, dan paskibraka ia anggap sebagai langkah awal menggapai cita-cita itu.

“Bude saya dari dulu pengen saya jadi abdi negara. Saya anggap paskib ini awal jalan saya menuju cita-cita itu. Saya ingin membanggakan beliau,” ungkapnya.

Berbeda dengan Putri, El-Rayyi Mujahid Faqih justru sudah menaruh minat besar terhadap paskibraka sejak kecil. Ia sering menyaksikan prosesi pengibaran bendera di televisi saat upacara 17 Agustus, dan dalam hati kecilnya tumbuh harapan suatu hari bisa berdiri di sana.

“Sejak kecil saya senang baris-berbaris, jadi pemimpin upacara di SD dan SMP. Waktu lihat Paskibraka di TV, saya bertanya, ‘mungkinkah saya bisa sampai di sana?’” tutur El-Rayyi.

Pengalaman organisasi seperti Pramuka sejak SD hingga SMK jadi bekal kuatnya. Meski bersekolah di asrama, ia mengaku tidak kekurangan fasilitas maupun dukungan. Sekolah bahkan memfasilitasi pengembangan minat dan bakat, dari musik, tari, hingga latihan PBB.

“Sekolah sangat mendukung. Saya ikut latihan musik tradisional, band, menari. Waktu seleksi nasional saya tampilkan permainan alat musik Sape. Di sini kami saling support antar teman dan guru juga selalu dorong kami untuk maju,” katanya.

El-Rayyi melewati berbagai tahapan seleksi mulai dari tingkat kota, provinsi, hingga nasional. Tes yang dijalani antara lain baris-berbaris, kesehatan, psikotes, hingga unjuk bakat. Kini, ia siap mengemban tugas sebagai bagian dari pasukan kehormatan di Istana Merdeka.

Baik Putri maupun El-Rayyi membuktikan bahwa rasa minder maupun keterbatasan bukan penghalang untuk menggapai mimpi, asal dibarengi tekad kuat dan dukungan dari lingkungan sekitar.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :