Samarinda, EKSPOSKALTIM - Selama hampir sebulan terakhir, dua gang sempit di Jalan AM Sangaji, Samarinda, mendadak ramai nyaris 24 jam. Warga sekitar resah.
Mereka lantas melaporkan aktivitas mencurigakan itu ke Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Timur. Laporan serupa datang dari tokoh agama hingga tokoh adat. Semua mengarah pada satu dugaan tempat itu jadi "pasar" sabu-sabu.
Pada Kamis malam, 31 Juli 2025, BNNP Kaltim melakukan penggerebekan. Operasi dimulai pukul 21.00 Wita dan berlangsung dua jam di Gang 1 dan Gang 3. Tapi informasi operasi rupanya lebih dulu bocor.
“Kami masuk dari pinggir jalan saja, sudah ada yang loncat ke sungai. Mereka punya penjagaan berlapis, ada mata-mata. Lokasi langsung dikosongkan,” ujar Kepala Seksi Intelijen BNNP Kaltim, AKP Dwi Wibowo Laksono, Sabtu (2/8).
Pengedar kabur. Tapi pembeli tetap berdatangan, tidak tahu bahwa lokasi itu sedang digerebek. Petugas pun mengamankan semua orang di tempat dan melakukan tes urine. Hasilnya, seluruhnya positif memakai narkoba.
“Mereka tetap datang ke sana untuk membeli. Untuk memberikan kesadaran, kami amankan, kami lakukan tes urine, dan ternyata positif,” kata Dwi. Dari total 94 orang yang diamankan, tujuh di antaranya perempuan.
BNNP menyebut sebagian besar dari mereka adalah pengguna, bukan pengedar. Mengacu arahan Kepala BNN RI Komjen Pol Marthinus Hukom, para pengguna diperlakukan sebagai korban. Mereka dibawa ke fasilitas rehabilitasi di Tanah Merah untuk asesmen medis, menentukan apakah butuh rawat jalan atau rawat inap.
“Rata-rata memang pengguna. Kami tidak menghukum mereka. Yang dapat untung itu pengedarnya. Kami bawa ke klinik untuk asesmen,” ucap Dwi.
Meski tidak berhasil menyita barang bukti, BNNP menganggap operasi ini tetap penting untuk memutus rantai peredaran. Strateginya bukan hanya menangkap pengedar, tapi juga mengurangi jumlah pembeli.
“Kita ingin hilangkan pasar-pasarnya. Kalau masih banyak pembeli, pasti akan ada penjual. Jadi kita sadarkan dulu pembelinya supaya tidak ada lagi yang datang ke sana,” tegas Dwi.
BNNP juga menduga lokasi itu bukan titik lama peredaran sabu, melainkan area baru yang menjadi tempat migrasi dari wilayah lain. Itulah kenapa penindakan dilakukan cepat agar tak berkembang lebih jauh.
“Ini pemain baru. Bukan warga sekitar. Diduga mereka pindahan dari daerah lain,” ujar seorang warga.
Meski operasi kali ini tak membuahkan penangkapan pengedar, BNNP memastikan pengawasan dan penindakan akan berlanjut. Mereka juga mengajak masyarakat terus melapor jika ada aktivitas mencurigakan di lingkungan sekitar.

