EKSPOSKALTIM, Bontang- Kepala Kementrian Agama (Kemenag) Kota Bontang Abdul Hamid, mengecam keras aksi Pencambukan yang dilakukan oleh oknum pengajar di Pesantren Subulana terhadap ke 4 santrinya. Hanya lantaran santri tersebut mencuri jagung di kebun salah-satu warga di area pesantren tersebut yang terletak di Bontang Lestari (Sekambing) Kecamatan Bontang Selatan, Pada Selasa (12/4/2016) lalu.
Menurut Abdul Hamid, Dunia pendidikan saat ini tidak lagi menerapkan pola-pola jaman dulu dalam menertibkan ataupun mendisiplinkan siswa meskipun itu dilingkup pesantren. Untuk itu, dirinya sangat menyayangkan adanya kasus seperti ini, sehingga pihaknya akan melakukan komunikasi terkait peraturan yang ada di Pesantren Subulana.
“Intinya kejadian ini sangat disayangkan. Kalau kita lihat dari segi agama, kata di pukul disini jangan disamakan dengan pukul dengan menggunakan rotan. Tetapi kata pukul disini bisa dilakukan dengan pukulan sayang, dengan tujuan untuk pembinaan anak. Bukan dengan cara disiksa seperti ini,” Kata Abdul Hamid, saat ditemui dikantornya di Jalan Pierre Tendean, Bontang Baru, Kecamatan Bontang Utara, kamis (14/4/2016).
Menindak lanjuti kejadian ini, diakuinya dalam waktu dekat Kemenag Kota Bontang akan melakukan investigasi untuk mengetahui inti permasalahan sebenarnya. Hal ini dikarenakan Pondok Pesantren Subulana berada di bawah naungan dan pengawasan Kementrian Agama. “ Jika memang terbukti bersalah, Kemenag akan melakukan bimbingan dan pembinaan terhadap pondok pesantren tersebut,” tegasnya.
“Sementara itu, Kepala Seksi Pendidikan Islam Kemenag Kota Bontang Faturrahman, mengungkapkan bahwa sampai saat ini Pesantren Subulana belum memiliki izin operasional dari Kemenag Kota Bontang.
“Disitu kita tidak bisa mengawasi para pendidik di pesantren tersebut, apakah mereka berkompeten atau tidak di dunia pendidikan. Kedepannya kami akan intensif dan akan pantau pendidik di semua pesantren,” terangnya.
Meskipun secara administratif mereka belum terdaftar sebagai pondok pesantren yang memiliki izin operasional dibawan intansi kementrian agama, tetapi diakuinya pihaknya tidak menutup mata dari sisi moralitas. “ Mereka itu termasuk binaan kita. Semoga kejadian ini tidak terjadi di pesantren lainnya,” pintanya. (*)

