EKSPOSKALTIM, Bontang- Dunia Pendidikan di Kota Bontang yang kembali tercoreng akibat kasus pencambukan terhadap 4 santri dengan melibatkan oknum pengajar di Pesantren Subulana, Bontang Lestari (Sekambing), Kecamatan Bontang Selatan, pada selasa (12/4/2016) lalu, hingga kini masih menuai sorotan dari beberapa pihak dan berujung pada pengecaman atas penerapan hukuman cambuk di pesantren tersebut.
Kendati lembaga pendidikan Pesantren bukan dibawah naungan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bontang, namun Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Bontang Dasuki sangat menyayangkan adanya penerapan hukuman cambuk pada PesantrenSubulana, dalam memberi efek jera terhadap santrinya.
Menurutnya, langkah yang dilakukan oknum pengajar di pesantren itu tidak dapat dibenarkan karena berakibat pada psikologis santri.
“Pendidikan dimanapun tidak dibenarkan melakukan kekerasan , masih ada cara-cara lebih arif dan lebih santun seperti melalui pendekatan dengan melihat psikologis anak, sehinggga bisa di ketahui bagai mana karakter anak tersebut. Bagai manapun alasannya cara-cara kekerasan tidak patut di dilakukan dilingkungan pendidikan” Ujar Dasuki, saat dimintai keterangan dikantornya terkait kasus tersebut, Rabu (13/04/2016).
Untuk itu, Dasuki berharap kepada seluruh pendidik yang ada di bawah naungannya untuk tidak melakukan kesalahan yang sama, serta mengambil pelajaran atas kasus ini.“ Saya berharap kejadian ini tidak terulang lagi baik di pesantren ataupun semua sekolah yang bernaung di bawah Dinas Pendidikan Kota Bontang,“ singkatnya. (*)

