Tegang, haru, sekaligus bangga bercampur menjadi satu saat Paskibraka Kota Bontang sukses mengibarkan Sang Saka Merah Putih. Di balik prosesi yang berjalan sempurna, tersimpan cerita perjuangan panjang para anggota yang ditempa latihan berbulan-bulan.
EKSPOSKALTIM, Bontang – Di balik suksesnya pengibaran bendera Merah Putih saat upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, ada rasa haru yang dirasakan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibraka) Kota Bontang.
Setelah melewati rangkaian seleksi dan latihan yang cukup panjang, mereka pun sukses mengibarkan Sang Saka Merah Putih, Senin (17/8), di Lapangan Stadion Bessai Berinta.
Pembawa baki, Natasya Aulia Putri dari SMK Negeri 1 Bontang, mengaku bahagia sekaligus bangga dipercaya menjalankan salah satu tugas penting dalam upacara tersebut.
“Perasaannya senang karena sudah melewati banyak seleksi dari teman-teman yang lain. Alhamdulillah jadi salah satu Paskibraka Kota Bontang tahun ini,” ujarnya.
Natasya mengatakan dirinya tidak mengetahui sejak awal bakal terpilih sebagai pembawa baki.
Penentuan tersebut bahkan baru benar-benar ditetapkan menjelang pelaksanaan upacara.
“Dari awal latihan belum pasti, hanya fokus ke PBB (Peraturan Baris-Berbaris), kemudian baru ditetapkan akhir bulan,” katanya.
Saat mengambil bendera dari Wali Kota Bontang, Natasya mengungkapkan dirinya sempat merasakan ketegangan. Namun, latihan yang telah dijalani menjadi bekal untuk mengendalikan rasa gugup.
“Kalau tegang pasti. Tapi sudah latihan sebulan lebih dengan pelatih dan senior, jadi harus menenangkan diri,” tuturnya.
Sementara itu, Komandan Pokok (Danpok) Paskibraka, Rahmat Putra Grom, mengungkapkan bahwa setelah prosesi selesai, ada perasaan lega dan haru.
“Selama ini kami latihan setengah mati. Apalagi cuaca Juli sampai Agustus kemarin panas, hujan pun malam dan paginya panas lagi,” bebernya.
Perasaan campur aduk juga dirasakan Muhammad Alviansyah, anggota yang bertugas sebagai pembentang bendera. Ia mengaku sempat deg-degan saat menjalankan tugas, namun berusaha tetap tenang.
“Deg-degan campur aduk ya, ada tanggung jawab untuk membentangkan bendera dengan benar, tapi sebisa mungkin saya tetap santai menghadapi itu,” katanya.
Sementara itu, Muhammad Alfian Akbar yang bertugas sebagai pengerek bendera mengaku sangat senang sekaligus bangga bisa dipercaya menjadi bagian dari pasukan inti.
“Perasaan saya sangat senang, bangga karena bisa membanggakan orang tua,” katanya.
Untuk memastikan bendera terbentang dan naik sesuai tempo lagu Indonesia Raya, Ia mengatakan para petugas telah dibekali hitungan khusus selama latihan.
“Kami diajari ada hitungan. Kami dapat 24 hitungan, jadi sekali tarik satu, dua sampai selesai,” jelasnya.
Alfian mengaku sempat mengalami masa sulit saat awal latihan hingga harus mendapat penanganan medis.
Kondisi itu bahkan sempat membuatnya pesimistis bisa masuk dalam pasukan delapan.
“Awal latihan saya sempat down, sempat masuk medis. Saya sudah berharap tidak bisa jadi pasukan delapan. Ternyata saya bisa jadi pengerek,” tandasnya.


