Menjawab ambisi besar Presiden Prabowo Subianto membuat bensin dari batu bara, Pemerintah Kalimantan Timur resmi tancap gas lewat proyek hilirisasi raksasa senilai Rp41,2 triliun di Kutai Timur. Menyulap batu bara "kelas teri" demi menyelamatkan kantong negara dari jeratan impor migas.
EKSPOSKALTIM, Samarinda — Di tengah rencana besar Presiden Prabowo Subianto mengembangkan bensin berbasis batu bara, Kalimantan Timur mulai menyiapkan salah satu mata rantai pentingnya. Batu bara berkalori rendah yang selama ini bernilai jual rendah atau masuk kategori non-spek kini diarahkan menjadi bahan baku metanol melalui proyek hilirisasi senilai Rp41,2 triliun di Kutai Timur.
Produk metanol tersebut bukan menjadi jenis bahan bakar baru, melainkan disiapkan sebagai bahan campuran dalam pembuatan bahan bakar minyak (BBM). Pemerintah menempatkan skema ini sebagai bagian dari agenda hilirisasi batu bara sekaligus penguatan ketahanan energi nasional.
Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membidik Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan sebagai lokasi pengembangan pengolahan batu bara kalori rendah menjadi metanol.
Produk tersebut kemudian diproyeksikan digunakan sebagai campuran BBM, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo mengenai pemanfaatan sumber energi dalam negeri.
Salah satu proyek yang telah didorong berada di Kabupaten Kutai Timur melalui Proyek Strategis Nasional (PSN) gasifikasi batu bara menjadi metanol di kawasan Batuta Chemical Industrial Park (BCIP).
Kepala Dinas ESDM Kalimantan Timur Bambang Arwanto mengatakan posisi Kaltim sebagai lumbung energi diarahkan untuk memperkuat hilirisasi, termasuk memanfaatkan batu bara berkalori rendah yang selama ini memiliki keterbatasan dari sisi harga jual.
"Jadi, sekitar Kalimantan Timur ini sebagai lumbung energi memang diarahkan untuk hilirisasi batu bara bagaimana batu bara kalau rendah ini bisa dimanfaatkan sebagai sumber untuk hilirisasi energi," kata Bambang, Selasa (10/6).
Menurut dia, peletakan batu pertama proyek Bumi Etam Chemical di Kutai Timur menjadi salah satu langkah awal pengembangan industri hilir batu bara di daerah.
"Sudah ada peletakan batu pertama di Bumi Etam Chemical di Kutai Timur untuk hilirisasi yang pertama kali di Indonesia," ujarnya.
Lihat postingan ini di Instagram
Bambang menjelaskan batu bara yang menjadi sasaran utama proyek tersebut bukan berasal dari kelompok komoditas dengan harga pasar tertinggi. Yang dibidik justru batu bara non-spek dengan nilai kalor sekitar 3.400 ke bawah.
Menurutnya, jenis batu bara tersebut tidak masuk dalam kelompok harga acuan batu bara HB1, HB2 maupun HB3 sehingga memiliki daya saing yang lebih rendah di pasar.
"Tapi memang harganya tidak kompetitif. Memang untuk non-spek ini, kebijakan pemerintah dimanfaatkan untuk energi untuk diubah menjadi metanol," katanya.
Karena itu, hilirisasi dinilai menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas yang selama ini dijual dengan harga relatif rendah.
"Karena memang kita punya sumber batu bara yang kalori rendah ini cukup besar, diharapkan karena kalau dijual kan itu juga harganya jatuh," lanjut Bambang.
Dalam skema yang disiapkan, batu bara tersebut akan diproses melalui teknologi coal to methanol. Kebutuhan bahan baku diperkirakan mencapai sekitar 7 juta ton batu bara per tahun.
"Itu menghasilkan sekitar 2 ton metanol," ujarnya.
Besarnya kebutuhan bahan baku berjalan seiring dengan nilai investasi proyek yang juga tidak kecil. Bambang menyebut pembangunan fasilitas coal to methanol membutuhkan investasi sekitar Rp41,2 triliun.
"Dan memang investasinya juga cukup besar," ungkapnya.
Selain membuka pasar baru bagi batu bara berkalori rendah, pemerintah juga menempatkan produksi metanol domestik sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Menurut Bambang, apabila kebutuhan metanol dapat dipenuhi dari dalam negeri, potensi penghematan devisa negara diperkirakan mencapai Rp7,1 triliun per tahun.
"Karena kita impor kan sumbernya metanol itu. Kalau memang metanol itu bisa diproduksi, dia bisa menghemat devisa," katanya.
Meski demikian, Bambang menegaskan produk yang dihasilkan dari proyek tersebut bukanlah bensin atau solar baru. Metanol nantinya digunakan sebagai bahan campuran dalam proses produksi BBM.
"Itu bahan campuran lagi untuk pembuatan BBM, bukan jenis baru," tegasnya.
Ia berharap proyek di Kutai Timur dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan hilirisasi batu bara berikutnya di Kalimantan Timur.
"Diharapkan sebagai motor penggerak untuk hilirisasi-hilirisasi selanjutnya," pungkas Bambang.



