PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Harga Emas Masih Tertahan, Ekonom Unmul Ingatkan Sinyal Tekanan Global

Home Berita Harga Emas Masih Tertahan ...

Harga Emas Masih Tertahan, Ekonom Unmul Ingatkan Sinyal Tekanan Global
Harga emas antam kembali terkoreksi hari ini. Foto ilustrasi: Antara

EKSPOSKALTIM, Samarinda-  Harga emas batangan di Pegadaian terpantau stagnan pada Kamis pagi, sementara harga emas Antam justru terkoreksi. Pergerakan yang berbeda ini memperlihatkan pasar emas domestik masih berfluktuasi di level tinggi, di tengah tekanan ekonomi global yang dinilai belum mereda.

Berdasarkan data laman resmi Sahabat Pegadaian per Kamis pukul 07.45 WIB, dua produk emas batangan, Galeri24 dan UBS, kompak tidak mengalami perubahan harga dibandingkan hari sebelumnya. Emas Galeri24 bertahan di angka Rp2.984.000 per gram, sedangkan emas UBS tetap di level Rp2.999.000 per gram.

Namun, perkembangan berbeda terjadi pada emas Antam. Mengutip laman Logam Mulia, Kamis pukul 08.57 WIB, harga emas Antam turun Rp17.000 per gram, dari sebelumnya Rp2.973.000 menjadi Rp2.956.000 per gram. Sementara harga beli kembali (buyback) emas Antam berada di Rp2.720.000 per gram.

Padahal, pada Rabu (4/2/2026) sore, harga emas Antam sempat mengalami kenaikan Rp27.000 per gram, sebelum kembali terkoreksi pada perdagangan pagi ini.

Secara umum, harga emas domestik masih bertahan di kisaran tertinggi sepanjang sejarah. Pengamat Ekonomi Universitas Mulawarman (Unmul), Purwadi Purwoharsojo, menilai lonjakan harga emas hingga mendekati Rp3 juta per gram bukan sekadar fenomena pasar jangka pendek.

“Harga emas naik tajam itu jelas karena efek global. Perang antarnegara, rudal sudah ditembakkan ke mana-mana. Ditambah kebijakan Amerika Serikat di era Trump yang menurut saya justru memperburuk kondisi ekonomi global,” ujar Purwadi dikutip Kamis (5/2). 

Menurut Purwadi, Amerika Serikat cenderung melakukan ekspansi ke negara-negara yang kaya sumber daya alam untuk menopang perekonomiannya. Langkah tersebut, kata dia, ikut mengguncang stabilitas ekonomi global dan berdampak ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Ia mengingatkan lonjakan harga emas berpotensi menekan nilai tukar rupiah, mengingat sebagian bahan baku emas nasional masih bergantung pada impor dan transaksi berbasis dolar Amerika Serikat.

“Yang dikhawatirkan bukan hanya emas, tapi kalau dolar ikut ugal-ugalan. Kalau dolar naik tajam, ekonomi kita bisa sangat tertekan,” ujarnya.

Purwadi menilai fundamental ekonomi Indonesia saat ini belum cukup kuat untuk menghadapi tekanan eksternal yang besar. Ia menyoroti belum sinkronnya kebijakan moneter dan fiskal, di mana stimulus telah digelontorkan, namun penyerapan kredit masih rendah dan likuiditas menumpuk hingga ribuan triliun rupiah.

Selain faktor global, ia juga mengingatkan potensi bahaya spekulasi emas di dalam negeri. Jika tidak dikendalikan, spekulasi berlebihan dikhawatirkan memicu inflasi baru, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri.

“Kalau emas dimanfaatkan secara negatif oleh spekulan, ini bisa memicu inflasi yang lebih luas. Apalagi ini momentum hari besar keagamaan,” katanya.

 


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :