EKSPOSKALTIM, Penajam - Sekelompok emak-emak mengarak sebuah truk batu bara menuju kantor kecamatan Batu Sopang. Sebelumnya mereka berhasil memergoki sebuah truk yang diam-diam melintasi jalan negara.
"Setelah kami tahan, kemarin truk ini sudah masyarakat serahkan ke pihak kecamatan," jelas salah seorang warga, sebut saja Ana, Minggu pagi (23/2).
Namun sebelum itu warga mengarak dulu truk berkelir kuning penuh batu bara 9,7 ton ini keliling kota. Itu sebagai kode keras kepada truk-truk lainnya agar tidak lagi nekat melintasi jalan nasional.
"Kalau sampai warga dapat lagi, kami akan tahan kembali," jelas Ana. Setelah sampai di kantor kecamatan, mereka lalu menggembosi ban truk. Mereka meminta agar pihak perusahaan datang untuk mengambilnya secara langsung.
"Kami tunggu sampai Kamis 27 Februari," kata Ana.
Pernah, kata Ana, seorang pria datang mengaku perwakilan dari perusahaan. "Ternyata dari ormas," kata dia.
Sebagai pengingat, truk-truk batu bara kembali melintasi jalan negara di Batu Kajang, Paser, Kalimantan Timur. Namun mereka tak lagi konvoi setelah tragedi di Muara Kate merenggut nyawa warga penolak hauling.
"Mereka sekarang jalannya pisah-pisah. Malam-malam," jelasnya.
Enggan kecolongan, warga secara bergantian berjaga di sebuah posko swadaya yang dibangun mereka.
Warga kuatir aktivitas hauling semakin memperparah kerusakan jalan, jembatan, dan mengancam keselamatan pengendara lainnya.
Warga yang resah lalu melakukan penjagaan. Pada 19 September, sebuah truk berhasil mereka tahan.
Praktik ilegal menggunakan jalan negara ini sejatinya bertentangan dengan Peraturan Daerah Kaltim Nomor 10/2012.
"Kami tahan sebagai bukti bahwa perusahaan tidak mengindahkan perintah Polda, bupati, dan masyarakat kabupaten Paser," jelas dia.
Aktivitas truk hauling di Paser juga telah merenggut sebanyak tiga nyawa warga. Pertama, warga bernama Teddy. Ustaz muda yang baru saja menikah ini tewas diduga tabrak lari truk batu bara, September 2024.
Kedua, adalah Pronika. Pendeta satu ini tewas setelah sebuah truk batu bara yang tak kuat menanjak, Oktober 2024.
Selanjutnya, nyawa Russell (60). Warga Muara Kate ini bahkan tewas ditikam setelah menolak aktivitas hauling. Pelakunya masih buron.
Warga menduga truk-truk batu bara ini berasal dari tambang PT Mantimin Coal Mining (MCM) di Tabalong, Kalimantan Selatan.
Dari Tabalong, jarak menuju pelabuhan batu bara di Kalimantan Timur relatif lebih dekat ketimbang Kalimantan Selatan.
Sampai hari ini MCM belum buka suara. Media ini sudah dua kali mendatangi kantor mereka di apartemen Cityloft Jakarta. Perwakilan direksi, Andreas Purba juga sudah coba dihubungi. Tak ada respons.
Terkait penindakan media ini sudah menghubungi Kapolda Kalsel, Irjen Pol Nanang Avianto. "Saya sudah perintahkan kapolres Paser untuk menangani," kata Nanang, Jumat (21/2).
Camat Batu Sopang Misran telah menyarankan agar truk tersebut dikembalikan ke perusahaan.
"Belum ada tindaklanjut dari kami. Karena ini bukan kewenangan kami," kata Misran.

