Pemangkasan anggaran hingga hampir 90 persen memaksa Disporapar Samarinda menghapus sejumlah agenda promosi besar, memangkas jumlah pendamping wisata, dan memperketat seleksi destinasi yang akan mendapat pembinaan pada 2027.
EKSPOSKALTIM, Samarinda- Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Samarinda memastikan program pendampingan destinasi wisata tetap dilanjutkan pada tahun anggaran 2027, meski harus menghadapi efisiensi anggaran. Anggaran bidang pariwisata yang semula mencapai Rp3,6 miliar dipangkas drastis menjadi tersisa Rp400 juta.
Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Disporapar Samarinda, Diana Pida Juliadi, mengungkapkan bahwa pemangkasan anggaran ini berdampak langsung pada ruang lingkup program pendampingan. Jika sebelumnya program melibatkan empat tenaga pendamping akademisi, kini jumlahnya dikurangi menjadi dua orang dengan alokasi dana sebesar Rp180 juta untuk tahun 2027.
“Program ini tidak kami masukkan di tahun 2026 karena fokus pada masa peralihan efisiensi,” ujar Diana pada Jumat (19/6/2026).
Akibat pengurangan fasilitas ini, Disporapar Samarinda akan lebih selektif dalam memilih destinasi wisata yang berhak menerima pembinaan. Dari total 36 destinasi wisata yang ada di Kota Samarinda, prioritas akan diberikan kepada sektor-sektor yang dinilai paling potensial dalam menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui sektor pajak dan retribusi tiket.
Salah satu target baru yang mulai dilirik oleh Disporapar adalah wisata kapal susur Sungai Mahakam. Destinasi ini dinilai memiliki potensi perputaran ekonomi yang tinggi karena selalu ramai dikunjungi wisatawan setiap akhir pekan.
Sebelum kebijakan efisiensi ini diterapkan, Disporapar Samarinda telah sukses menjalankan program pendampingan selama lima bulan di empat destinasi ikonik, yaitu Desa Budaya Pampang, Bukit Steling, Kampung Tenun, dan Kampung Ketupat berdasarkan Surat Keputusan (SK) Wali Kota.
Dalam program tersebut, para pengelola dibekali kemampuan strategi promosi, penyusunan paket wisata edukasi, penguatan manajemen destinasi alam, hingga standar pelayanan wisatawan (hospitality).
Diana mengklaim, program ini berhasil memicu kemajuan pariwisata daerah. Destinasi yang menerapkan sistem tiket masuk kini telah berkontribusi menyetor pajak hiburan sebesar 10 persen ke kas daerah melalui Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Samarinda.
Guna menyiasati sisa anggaran pariwisata yang hanya bertumpu pada angka Rp400 juta, Disporapar Samarinda terpaksa menghapus sejumlah agenda promosi besar. Kebijakan ketat diberlakukan dengan meniadakan anggaran perjalanan dinas serta pameran pariwisata ke luar daerah yang biasanya digelar 5 hingga 6 kali dalam sebulan.
Meski melakukan penghematan besar-besaran, Diana menegaskan bahwa beberapa agenda pariwisata prioritas yang bersentuhan langsung dengan pelestarian budaya dipastikan tidak akan dihapus.
"Sesuai arahan Pak Wali Kota, agenda prioritas seperti Festival Budaya Pampang jangan sampai hilang," pungkasnya.



