Ladang perkebunan warga yang digenangi banjir. Minggu (2/4)
EKSPOSKALTIM, Bontang- Banjir yang terjadi di Desa Santan, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara kian mengkhawatirkan masyarakat setempat.
Kepala Desa Santan Tengah Nasrullah menuturkan, sejak adanya aktivitas pertambangan pada 1990-an akhir, banjir tidak bisa diprediksi.
Sejak Januari tahun ini, intensitas banjir semakin meresahkan. Selain karena debit air semakin besar, kata dia, banjir juga dibarengi dengan lumpur.
"Akibat banjir, petani mengalami gagal panen ratusan hektar jagung dan pisang, ribuan ton kelapa sawit tertunda dipanen. Selain itu, terpaksa sekolah juga ikut diliburkan dan warga juga mencemaskan buaya yang kerap memasuki daerah permukiman,” terangnya, Minggu (2/4).
Di sisi lain, Ketua Umum Kesatuan Pelajar dan Mahasiswa Santan (Kepmas) Saiful Ardi menambahkan, keresahan warga membuat Kepmas berencana melakukan investigasi untuk membuktikan penyebab terjadinya banjir.
“Kami mensinyalir banjir yang kerap terjadi di desa bukan hanya karena curah hujan yang tinggi, akan tetapi ada kaitannya dengan eksploitasi tambang di hulu sungai Santan,” tuturnya.
PT Indominco Mandiri dan PT Tambang Damai, lanjut Saiful, merupakan deretan perusahaan yang melakukan aktivitas pertambangan di hulu sungai.
“Kami sudah memiliki beberapa informasi dan data yang menunjukkan bahwa limbah perusahaan terbuang langsung ke sungai. Akibatnya, intensitas banjir dan pencemaran air tak terhindarkan. Banjir yang terjadi sangat aneh, airnya keruh berlumpur, dan sangat tidak layak untuk dikonsumsi,” bebernya.
Senada, aktivis lingkungan dari Santan Ilir, Taufik Iskandar menilai kondisi sungai Santan saat ini mengalami degradasi lingkungan.
“Berbagai persoalan yang dihadapi warga Santan terkait eksistensi kondisi sungai sebagai urat nadi kehidupan bagi masyarakat Santan Ulu, Tengah, dan Ilir,”pungkasnya.
Editor : Benny Oktaryanto

