PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Di Balik Panas Terik Samarinda yang Dipicu Ekuinoks

Home Berita Di Balik Panas Terik Sama ...

Cuaca panas menyengat yang dirasakan warga Samarinda dalam beberapa hari terakhir ternyata dipicu fenomena ekuinoks. Kondisi ini justru menjadi awal dari potensi cuaca ekstrem saat memasuki masa pancaroba.


Di Balik Panas Terik Samarinda yang Dipicu Ekuinoks
Data BMKG suhu maksimum di Samarinda sudah mencapai 34 derajat celsius. Foto: Koran Kaltim

EKSPOSKALTIM, Samarinda - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) menjelaskan fenomena ekuinoks merupakan siklus tahunan ketika posisi semu Matahari tepat berada di atas garis khatulistiwa, yang terjadi setiap Maret dan September.

Prakirawan BMKG Samarinda, Fathul Hidayatullah, mengatakan kondisi tersebut membuat intensitas radiasi matahari di wilayah Kalimantan, termasuk Samarinda, mencapai titik maksimum.

“Selain faktor posisi Matahari, minimnya tutupan awan dalam beberapa hari terakhir membuat radiasi surya langsung mencapai permukaan Bumi tanpa penghalang. Hal inilah yang menyebabkan suhu terasa sangat menyengat,” ujarnya di Samarinda, Senin.

Berdasarkan data Stasiun Meteorologi APT Pranoto, suhu maksimum di Samarinda telah mencapai 34 derajat Celsius.

Namun, di balik panas terik tersebut, BMKG mengingatkan adanya perubahan cuaca yang lebih dinamis dalam waktu dekat. Memasuki akhir April hingga Mei, Kalimantan Timur diprediksi mulai mengalami masa peralihan atau pancaroba.

Pada fase ini, pemanasan intens sejak pagi hari dapat memicu pertumbuhan awan konvektif jenis Cumulonimbus secara signifikan.

“Dampaknya adalah potensi hujan lebat berdurasi singkat pada sore atau malam hari yang sering kali disertai angin kencang,” kata Fathul.

BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk memahami perbedaan jenis angin. Angin dikategorikan kencang jika kecepatannya melebihi 25 knot atau sekitar 45 kilometer per jam, berbeda dengan puting beliung yang memiliki pusaran spiral dan bersifat merusak.

Menghadapi kondisi cuaca yang fluktuatif, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan, mulai dari menjaga hidrasi tubuh dengan memperbanyak konsumsi air, menggunakan pelindung seperti tabir surya dan topi saat beraktivitas di luar ruangan, hingga menghindari berteduh di bawah pohon besar atau bangunan rapuh saat angin kencang.

Selain itu, perubahan cuaca dari panas ke hujan juga berpotensi menurunkan daya tahan tubuh, sehingga masyarakat diminta menjaga kondisi fisik agar terhindar dari penyakit.

BMKG mengimbau warga untuk terus memantau informasi cuaca terbaru melalui kanal resmi, termasuk aplikasi Info BMKG, guna menunjang keselamatan selama beraktivitas.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :