PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Cerita Warga Telihan Jadi Langganan Banjir: Syukuran di Posyandu-Terpaksa Mengungsi

Home Berita Cerita Warga Telihan Jadi ...

Cerita Warga Telihan Jadi Langganan Banjir: Syukuran di Posyandu-Terpaksa Mengungsi
Kondisi Banjir di Gang Semarang RT 29 Kelurahan Gunung Telihan, Kecamatan Bontang Barat. Foto: Ekspos

EKSPOSKALTIM, Bontang – Belum genap dua hari surut, permukiman warga di Kelurahan Gunung Telihan, Kecamatan Bontang Barat, kembali terendam banjir, Rabu (14/5) pagi. Sejak subuh, warga tampak sibuk menyelamatkan perabotan rumah tangga agar tak rusak terendam air.

Jefrianto, warga Jalan Pontianak 2 RT 23, menyaksikan air mulai naik perlahan sejak pukul 06.30 WITA. Sekitar pukul 10.00 WITA, genangan mulai masuk ke dalam rumah. Untuk mencegah air meluber lebih tinggi, ia menembok bagian bawah pintu dan terus-menerus menguras air yang masuk.

"Tinggi air di luar rumah sudah sampai lutut. Untungnya, di dalam tidak terlalu karena saya sudah buat penghalang," katanya sambil menunjuk lutut kakinya.

Jefrianto menuturkan rumahnya nyaris selalu kebanjiran setiap kali hujan deras mengguyur Kota Taman. Kerugian akibat banjir pun tak sedikit, lantaran banyak perabotan rusak.

"Kalau di pusat kota mulai banjir, di sini pasti duluan kena," ucapnya.

Ia menambahkan pintu air yang dibangun pemerintah sebenarnya berfungsi baik. Namun, jika pintu ditutup, justru akan mengakibatkan banjir di wilayah seberang rumahnya. Karena itu, pintu air dibiarkan terbuka.

Sementara itu, Tuti, warga Jalan Pontianak RT 23, terpaksa mengungsi ke ruangan yang lebih tinggi bersama bayinya. Genangan di dalam rumahnya sudah melebihi mata kaki.

"Sudah dari 2005 kami kebanjiran. Paling parah itu 2019, air sampai sepinggang," ujarnya.

Desak Pelebaran Sungai

Cerita serupa datang dari Antonius Andiang, warga Gang Semarang, Blok C, RT 29. Ia terpaksa memindahkan acara syukuran ke Posyandu karena rumahnya dikepung air setinggi lutut orang dewasa. Semua perabot pun buru-buru dinaikkan ke tempat yang lebih aman.

"Air terus naik. Padahal katering sudah datang untuk acara. Akhirnya kami ambil inisiatif pindah ke Posyandu," katanya.

Ia mengingat, sejak 2008 banjir sudah menjadi masalah di lingkungan tersebut. Namun, dulu air hanya menggenangi jalan. Kini, air makin sering masuk ke dalam rumah. Puncaknya terjadi pada 2019, saat mobil miliknya sampai terendam dan harus turun mesin.

"Kerugiannya besar. Bukan cuma barang, mobil pun rusak berat," keluhnya.

Menurut Antonius, banjir makin parah karena sungai di sekitar permukiman terlalu sempit untuk menampung debit air dari dua sungai yang bermuara ke satu aliran sungai kecil di kawasan itu.

"Air datang dari dua sungai, tapi keluar lewat satu sungai kecil. Tidak masuk akal. Harusnya pemerintah segera lebarkan sungainya," tegasnya.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :