EKSPOSKALTIM, Bontang - Tingginya biaya transportasi menuju Kabupaten Mahakam Ulu Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) ternyata berbanding lurus dengan kebutuhan biaya hidup yang ada di daerah otonom baru ini.
Menurut Suwarni, salah seorang pedagang di Pasar Tradisional Desa Ujoh Bilang, Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Mahulu ini mengatakan, untuk memasok barang seperti halnya sembako masuk ke daerah ini dibutuhkan biaya transport yang cukup besar.
"Hanya biaya transportasi yang menjadi patokan saya untuk memberikan besaran harga sayuran yang saya jual. Biasanya saya hanya mengambil untung sedikit saja, berkisar 2 hingga 3 ribu rupiah saja setiap item barang," kata Suwarni saat ditemui di lapak jualannya, Sabtu (8/9) siang tadi.
Dijelaskannya, dalam memasok barang dagangan sampai ke daerah ini, jalur transportasi sungai dengan menggunakan kapal spit menjadi media transport satu-satunya yang digunakan para pedagang .
"Hanya menggunakan spit saja untuk ngantar barangnya, biasanya sekali angkut tergantung berapa banyak barang. Kalau dengan beban 1,5 Ton, biaya angkut kapal sebesar 3 juta yang dikenakan, belum lagi lebih banyak barang, otomatis harga transport juga besar," ulasnya.
Harga transportasi juga tidak dapat diprediksi kata dia, banyak faktor yang menyebabkan naik dan turunnya besaran biaya, salah satunya faktor alam. Faktor inilah yang paling mempengaruhi harga barang.
"Kalau harga transport tidak dapat diprediksi, maka barang juga tidak menentu. Biasanya biaya melonjak tinggi pada saat musim kemarau terjadi, kalau sungai surut kapal tidak bersandar di dermaga, jadi harus melalui kapal kecil lagi dan itu kena biaya lagi," tutupnya. (ADV)

