PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Banjir di Mentawir Kepung IKN, Terbesar dalam 26 Tahun

Home Berita Banjir Di Mentawir Kepung ...

Banjir terbesar dalam 26 tahun terakhir merendam Kelurahan Mentawir, kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), akibat luapan sungai setelah hujan lebat berjam-jam. 


Banjir di Mentawir Kepung IKN, Terbesar dalam 26 Tahun
Banjir setinggi orang dewasa merendam Kelurahan Mentawir, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, Kamis (8/1). Foto: BPBD

EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Banjir kembali merendam Kelurahan Mentawir, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, Kamis (8/1) dini hari. Luapan sungai akibat hujan berintensitas sedang hingga lebat menyebabkan sedikitnya 54 rumah warga di tiga rukun tetangga terdampak.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten PPU, M. Sukadi Kuncoro, menjelaskan wilayah yang terdampak meliputi RT 01, RT 02, dan RT 03. Kelurahan Mentawir sendiri merupakan bagian dari kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).

“Peristiwa banjir terjadi sekitar pukul 03.00 WITA dan laporan resmi kami terima di Pusat Pengendalian Operasi BPBD PPU pada pukul 09.15 WITA,” ujar Sukadi Kuncoro.

Menurutnya, banjir dipicu hujan yang berlangsung cukup lama sejak Rabu (7/1/2026) sore hingga Kamis (8/1/2026) pagi. “Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat terjadi sejak pukul 17.00 WITA sampai sekitar pukul 06.00 WITA. Kondisi ini menyebabkan daerah aliran sungai meluap dan air masuk ke permukiman warga yang berada di dataran rendah serta bantaran sungai,” jelasnya.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem secara berturut-turut pada Rabu (7/1/2026) pukul 17.45 WITA, 20.15 WITA, dan 21.15 WITA. Peringatan tersebut terkait potensi hujan sedang hingga lebat yang disertai kilat, petir, dan angin kencang di wilayah Sepaku dan sekitarnya.

Data BPBD PPU mencatat di RT 01 terdapat sembilan rumah terdampak dengan sembilan kepala keluarga (KK) atau 25 jiwa. RT 02 menjadi wilayah terdampak terparah dengan 42 rumah terendam, dihuni 42 KK atau 108 jiwa. Sementara di RT 03, banjir merendam tiga rumah dengan tiga KK atau 14 jiwa. Secara keseluruhan, banjir berdampak pada 54 rumah dengan total 147 jiwa.

“Pada saat kejadian, tinggi muka air di halaman rumah warga berkisar 50 hingga 80 sentimeter, sedangkan di dalam rumah mencapai sekitar 10 sampai 15 sentimeter,” kata Sukadi Kuncoro.

Teranyar, kondisi banjir saat ini sudah berangsur surut. Meski demikian, BPBD PPU tetap melakukan pemantauan intensif guna mengantisipasi kemungkinan hujan susulan. “Secara umum, kondisi terkini di lokasi terdampak sudah mulai surut,” ujarnya.

Dalam penanganan darurat, BPBD PPU langsung mengerahkan tim ke lokasi begitu laporan diterima. Petugas melakukan pemantauan tinggi muka air, berkoordinasi dengan seluruh unsur terkait, serta menyerahkan bantuan logistik secara simbolis kepada pihak Kelurahan Mentawir untuk disalurkan kepada warga terdampak.

“Kami juga berkoordinasi dengan Otorita IKN terkait rencana usulan normalisasi Sungai Mentawir sebagai langkah penanganan ke depan,” jelas Kuncoro.

Penanganan di lapangan melibatkan BPBD PPU, Otorita IKN, Babinsa, Bhabinkamtibmas, relawan, serta warga setempat. BPBD PPU menurunkan tiga unit mobil operasional lengkap dengan peralatan penanggulangan bencana, sementara Otorita IKN mengerahkan satu unit mobil operasional.

Banjir Terbesar dalam 26 Tahun

Terpisah, Lurah Mentawir Nelva Susanti memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa banjir musiman tersebut. “Alhamdulillah tidak ada korban. Saat ini aktivitas warga sudah pulih. Ini memang banjir musiman yang biasa terjadi setiap akhir dan awal tahun,” kata Nelva, Jumat (9/1/2026).

Meski bersifat tahunan, Nelva menyebut banjir kali ini merupakan yang terbesar selama 26 tahun terakhir ia tinggal di Mentawir. Berdasarkan catatan pihak kelurahan, sekitar 15 rumah sempat terendam banjir, sementara rumah lainnya hanya tergenang hingga kolong.

“Rumah yang terendam seluruhnya berada di dekat sungai. Ketinggian air saat banjir sempat mencapai 1,5 sampai 2 meter,” ujarnya.

Nelva menduga banjir besar kali ini dipicu oleh pendangkalan di bagian hulu sungai serta penyempitan di muara. Pihak kelurahan, kata dia, telah berulang kali mengusulkan normalisasi sungai kepada dinas terkait.

“Namun UPT tidak memiliki alat yang memadai untuk pengerukan. Karena itu, sampai sekarang normalisasi sungai belum bisa direalisasikan,” pungkasnya.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :