EKSPOSKALTIM, Bontang - Aliansi Masyarakat Bontang Menggugat (AMBM) menolak opsi dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang terkait kenaikan tarif air.
Hingga sekira jam 8 malam, sebelumnya, Pemkot Bontang serta sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bontang dari tiga Fraksi melakukan mediasi lanjutan di Gedung DRPD, Bontang Lestari, Senin (9/5).
Mediasi dilakukan setelah AMBM gelar aksi demo di depan kantor PDAM dan Rujab Wali Kota. Perwakilan dari AMBM datang dengan dikomandoi M. Muqrim.
Pemkot Bontang dan DPRD menawarkan opsi tarif kepada AMBM sebagai langkah terakhir pemerintah.
Rapat yang dipimpin langsung Ketua DPRD Bontang Nursalam ini meminta perwakilan pedemo menyetujui opsi terakhir terkait penurunan tarif air dari 120 persen diturunkan menjadi 50 persen atau berkisar Rp 4.800 per kubiknya.
"50 persen ini sudah kita rembukan dengan Wali Kota, dan pihak PDAM. Ini merupakan opsi terakhir dari kami,” kata Salam.
Ia juga mengaku, keputusan tarif sebesar 50 persen ini merupakan keputusan pahit bagi pemerintah. Sebagai informasi, kata Salam, kebutuhan operasional PDAM saat ini cukup tinggi.
Kerugian dalam setiap tahunnya mencapai kurang lebih Rp 11 miliar. "Kita sudah rugi, sementara pelayanan kepada masyarakat harus tetap ditingkatkan. Mari kita cermati sama-sama soal kondisi ini," ujarnya.
Ia menyebut, tarif 50 persen tersebut berlaku bagi siapa saja dan tidak ada perbedaan, baik golongan satu, dua, dan tiga, serta golongan niaga.
Setelah menyampaikan opsi tersebut, sesi tanya jawab diberikan kepada perwakilan AMBM yang hadir.
Koordinator AMBM, Muqrim menanggapi hal ini dengan menyebut, jangankan 50 persen, biaya tarif air normal saja masih dikeluhkan masyarakat, apalagi jika tarif naik.
"Sebenarnya kami tidak keberatan jika naik, tapi waktunya tidak tepat. Bulan puasa dan Idul Fitri sudah di depan mata, pastinya semua harga bahan pokok juga akan naik. Bisa gak sih kenaikan ini setelah bulan Ramadan atau Idul Fitri," ujarnya.
Ia juga kembali menegaskan terkait negosiasi yang sudah dilakukan AMBM kepada Pemkot Bontang di kantor PDAM, siang tadi.
"Tadi kita sudah lakukan negosiasi dengan Pemkot Bontang, tapi tidak adanya jawaban yang pasti makanya kami tetap menginginkan kenaikan ini ditunda dulu sembari melakukan evaluasi kembali," cetusnya.
Salam kembali menanggapi apa yang disampaikan. Ia pun menegaskan, tensi pemerintah sudah cukup turun hingga mencapai angka tarif air hingga 50 persen. Namun, AMBM juga tetap berada dalam pendiriannya, yakni menolak jika tarif dinaikkan.
Sekedar diketahui, AMBM menuju kantor DPRD setelah pihak pemkot meminta untuk melakukan mediasi sekira pukul 4 sore. Namun, hingga mediasi usai sekira pukul 8 malam dengan hasil tanpa keputusan yang pasti dari ke pemerintah dan DPRD Bontang. (adv)

