Tingginya angka temuan TBC dinilai menunjukkan indikasi keberhasilan deteksi dini dalam memutus rantai penularan.
EKSPOSKALTIM, Samarinda - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mencatat sekitar 4.000 kasus tuberkulosis (TBC) sepanjang 2025, hasil dari upaya skrining deteksi dini yang dilakukan secara masif.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Samarinda, Nata Siswanto, mengatakan tingginya angka temuan tersebut justru mencerminkan efektivitas sistem deteksi yang dijalankan.
“Semakin intens kita melakukan deteksi dini, maka kasus yang ditemukan akan semakin tinggi. Ini langkah penting karena pasien yang terdeteksi bisa segera diobati agar tidak menularkan ke orang lain,” ujarnya, dikutip Selasa (14/4).
Sepanjang 2025, tercatat sekitar 19.000 hingga 20.000 warga telah menjalani skrining, dengan hasil sekitar 4.000 orang dinyatakan positif TBC.
Dari sisi target nasional, Samarinda mencatat realisasi 3.758 kasus atau sekitar 79 persen dari target 4.770 kasus yang ditetapkan.
Memasuki 2026, Dinkes berupaya mempertahankan konsistensi deteksi dini, meski dihadapkan pada sejumlah kendala operasional.
Nata mengakui adanya keterbatasan efisiensi anggaran serta ketersediaan bahan habis pakai (BHP) untuk pemeriksaan laboratorium.
“Ketersediaan BHP saat ini belum mencukupi untuk kebutuhan sepanjang tahun. Kami berupaya memenuhinya melalui hibah maupun bantuan dari pemerintah provinsi dan pusat,” katanya.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Samarinda tengah menyusun Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pencegahan dan Penanggulangan TBC–HIV/AIDS.
Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, menegaskan regulasi tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat penanganan yang lebih terintegrasi.
“Penanganan TBC tidak bisa dilakukan secara parsial. Harus terintegrasi dan berkelanjutan agar akses layanan kesehatan lebih mudah dijangkau dan bebas dari stigma,” ujarnya.



