Samarinda, EKSPOSKALTIM - Di tengah gempuran industri dan deru pembangunan yang terus merangsek hutan Kalimantan, sebuah ruang sunyi berdiri di tepian Waduk Panji Sukarame, Tenggarong. Museum Kayu Tuah Himba namanya. Bukan sekadar tempat menyimpan koleksi, tapi sebuah pernyataan tentang warisan yang nyaris punah dan harapan yang ingin dipelihara.
Museum ini menyimpan lebih dari sekadar kayu. Ia menyimpan suara hutan. Dalam diamnya, ada pesan yang berulang kali disampaikan: bahwa apa yang tersisa dari alam ini patut dijaga, dikenang, dan diwariskan. “Satu pohon bisa menjadi jutaan batang korek api, tapi satu batang korek bisa membakar jutaan pohon,” tertulis pada salah satu dinding museum. Pepatah itu tak hanya menghiasi ruang, tapi menjadi pengingat keras atas realitas yang tengah dihadapi Kalimantan.
Gagasan museum ini berangkat dari kekhawatiran yang memuncak di dekade 1990-an, ketika hutan-hutan di Kalimantan Timur dilucuti oleh ekspansi industri ekstraktif dan pembalakan liar. Pada saat itu, para pemerhati lingkungan mendorong pemerintah daerah untuk mengambil langkah konkret. Maka pada awal 1994, pembangunan museum dimulai. Dua tahun kemudian, tepat pada 25 September 1996, museum ini resmi dibuka untuk umum, bertepatan dengan Hari Jadi ke-214 Kota Tenggarong—sebuah simbol bahwa pelestarian alam adalah bagian dari identitas daerah.
Nama "Tuah Himba" berasal dari bahasa Kutai. “Tuah” bermakna sakti atau membawa keberkahan, sementara “Himba” berarti hutan. Museum ini, yang dalam bahasa Kutai disebut “odah”, menjadi rumah bagi beragam jenis kayu—sebagian masih lestari, sebagian lain tinggal cerita.
Di dalamnya, lebih dari 850 koleksi tersimpan rapi: sekitar 305 jenis kayu, ratusan spesimen herbarium, aneka tumbuhan, rotan, hingga peralatan tradisional masyarakat Kutai dan Dayak. Ada alat tangkap ikan, alat musik, alat dapur, hasil olahan kayu, dan juga kerajinan rotan. Tapi yang paling menyita perhatian sebagian besar pengunjung adalah dua makhluk besar yang telah diawetkan: buaya Muara Badak dan buaya Sangatta. Yang terakhir ini ditangkap pada 8 Maret 1996, usai memangsa seorang perempuan bernama Hairani di Sungai Kenyamukan. Beratnya 850 kilogram dengan panjang tubuh hampir 7 meter. Usianya diperkirakan mencapai 70 tahun.
Tak hanya flora dan fauna, museum ini juga menyimpan pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satunya adalah berbagai jenis kayu berkhasiat yang digunakan oleh masyarakat Dayak untuk pengobatan tradisional. Kayu Pasak Bumi misalnya, dikenal sebagai tonikum dan penambah stamina. Kayu Gading atau Kayu Ulas dipercaya mampu menangkal ilmu hitam. Kayu Secang digunakan sebagai pewarna alami sekaligus penambah darah, dan Kayu Kenanga Hutan berkhasiat menyembuhkan berbagai gangguan pernapasan hingga penyakit kulit.
Museum ini juga menyoroti kekayaan rotan Kalimantan, yang memiliki ragam terbanyak di Indonesia, mencapai 137 jenis. Di daerah pedalaman Kutai dan Dayak, rotan digunakan untuk membangun rumah, mengikat tiang, membuat anyaman, hingga menjadi bahan kerajinan bernilai tinggi. Hampir seluruh batangnya dipenuhi duri kecil yang tajam, menjadi simbol betapa segala hal dari hutan, sekecil apapun, punya fungsi dan nilai.
Di bawah pengelolaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Kartanegara, museum ini tak berhenti pada pameran benda. Ia juga menyuguhkan video edukasi yang mengajak pengunjung memahami pentingnya pelestarian hutan dan biodiversitas Kalimantan. Melalui layar-layar itu, pengunjung diajak tidak sekadar melihat, tapi merenung. Bahwa kayu-kayu yang tersusun rapi itu bukan sekadar koleksi mati, melainkan jejak kehidupan yang terus terancam.
Museum Kayu Tuah Himba adalah ruang yang menyimpan cerita dan peringatan. Ia berdiri sebagai monumen atas rapuhnya ekosistem, sekaligus harapan akan masa depan yang lebih bijak terhadap alam. Di antara kayu, rotan, dan awetan binatang, terselip pesan yang tertulis jelas dan sederhana: Lestarikan hutan kita, lestarikan alam kita, lestarikan Odah Etam.

