Di Pantai Ambalat, berkemah tak lagi identik dengan repot. Glamping menghadirkan cara baru menikmati laut.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Pagi di Pantai Ambalat tak dimulai dengan alarm. Ia datang bersama matahari yang merambat naik dari lengkungan laut, deru ombak yang pelan, dan kicau burung di dahan pinus. Dari dalam tenda, sarapan terasa lebih khusyuk, hangat, perlahan, dan jauh dari hiruk-pikuk kota.
Sore hari, pengunjung kembali berkumpul di bibir pantai. Sunset menjadi ritual yang nyaris wajib, diabadikan bersama keluarga atau orang terdekat. Saat malam turun, Ambalat berubah lebih intim. Kepiting pasir dan kelomang keluar dari persembunyian, mengitari pantai, seolah menjadi penanda bahwa manusia sedang bertamu di rumah alam.
“Tempatnya asyik, suasananya romantis, dan kebetulan saya berkemah bareng istri,” ujar Indra Shanum, pengunjung asal Samarinda.
Indra memilih glamping, berkemah dengan sentuhan kenyamanan. Di Ambalat, tenda tebal, kasur empuk, dan listrik membuat pengalaman menyatu dengan alam terasa santun. Dingin tanah, simpul tali, dan kerepotan logistik tak lagi jadi urusan.
Saat ini, terdapat enam titik penginapan di kawasan Pantai Ambalat. Masing-masing menawarkan konsep glamping dan cottage dengan segmen berbeda, dari keluarga hingga rombongan komunitas.
Pantai Ambalat berada di Desa Ambarawang Laut, Kabupaten Kutai Kartanegara. Aksesnya sekitar satu jam berkendara dari Balikpapan atau dua jam dari Samarinda. Sejumlah rombongan Otorita IKN juga tercatat pernah berkunjung, ini menjadi sinyal bahwa kawasan ini mulai dilirik sebagai penyangga ibu kota baru.
Dari Pantai Sepi ke Denyut Ekonomi Desa
Di pos jaga pintu masuk, Syahrudin, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Ambarawang Laut, memandang laut dengan tenang. Baginya, Ambalat bukan sekadar pantai, melainkan harapan ekonomi warga.
“Awalnya akses ke sini sulit. Masih hutan,” kenangnya, merujuk tahun 2010 saat potensi Ambalat mulai dilirik. Pantai ini sempat diresmikan sebagai destinasi wisata, namun lama berjalan tertatih.
Perubahan mulai terasa pada 2019, ketika Pokdarwis terbentuk dan bantuan CSR PLN masuk. Listrik tersedia, titian ke laut dibangun. Malam tak lagi gelap. Investasi pun mulai berdatangan. Cottage bermunculan, kedai kopi tumbuh di tepi pantai.
Dampaknya terasa nyata. Pada akhir pekan, kendaraan roda empat yang masuk bisa mencapai 200 unit. Tarif masuk dipatok Rp30.000 untuk mobil, Rp15.000 motor, dan Rp150.000 bus.
Dana retribusi dikelola Pokdarwis yang beranggotakan 15 orang, dibantu tim keamanan. Uangnya diputar kembali untuk perbaikan jalan, kebersihan, dan operasional pantai.
Ekowisata dan Rencana Jangka Panjang
Ambalat tak hanya menawarkan pasir dan laut. Di sekitarnya, mangrove tumbuh alami dan menjadi habitat bekantan serta monyet ekor panjang. Potensi ekowisata ini sedang dipersiapkan melalui rencana pembangunan jembatan susur bakau, agar wisatawan tak menumpuk di bibir pantai dan tetap mendapat edukasi lingkungan.
Gazebo keluarga terus ditambah. Wahana ATV sudah ada, meski pengelolaannya masih terpisah oleh warga dan belum terintegrasi penuh di bawah Pokdarwis.
Dengan pengelolaan yang perlahan tapi konsisten, Pantai Ambalat menjelma lebih dari destinasi liburan. Ia menjadi contoh bagaimana desa pesisir di Kalimantan Timur bergerak mandiri, merawat alam, menyambut tamu, dan menumbuhkan harapan dari pasir dan ombak.



