EKSPOSKALTIM.com, Samarinda - Aparat dari TNI dan Polri di Samarinda melakukan pengamanan di seluruh Gereja di Kota Samarinda. Polresta Samarinda dibantu Brimob Batalyon B Pelopor Samarinda dan Kodim 0901/SMD melaksanakan pengamanan di 108 gereja se-Kota Samarinda.
Patroli gabungan ini dalam rangka memberi rasa aman kepada umat Nasrani yang sedang melaksanakan ibadah Natal. Di Samarinda ada 108 gereja dan semuanya diamankan oleh Personel Polri maupun TNI. Polresta Samarinda juga selalu berkoordinasi dengan FKPD lainnya apabila terjadi situasi yang menonjol, agar dapat langsung ditangani bersama.
Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Kaltim Tahun 2019 Diprediksi Hanya 3,5 Persen
Kapolresta Samarinda Kombes Pol Vendra Riviyanto bersama PJU meninjau langsung personel yang melaksanakan pengamanan di beberapa gereja. Salah satunya, di Gereja Oikumene, di Jalan Cipto Mangunkusumo, Sengkotek, Kecamatan Loa Janan Ilir, Samarinda, Selasa (25/5). Gereja Oikumene tersebut merupakan gabungan dari beberapa jemaah di Kota Tepian.
Aparat berjaga melakukan pemeriksaan di pintu masuk gereja. Petugas juga menjaga bagian dalam gereja agar memastikan jemaat nasrani melakukan ibadah dengan lancar tanpa ada gangugan keamanan.
Kepada wartawan, Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Vendra Rivianto menuturkan, pihaknya melakukan pengamanan untuk memberi rasa aman kepada jemaat yang menjalankan ibadah.
Penjagaan ketat, kata dia, tidak hanya dilakukan di Gereja Oikumene Samarinda saja. Namun dilakukan diseluruh gereja di Samarinda, dibantu dengan petugas dari TNI.
"Ini bagian dari pelayanan kepada masyarakat yang merayakan Hari Raya Natal di seluruh kota Samarinda. Ada 108 dari 156 gereja saat ini masih berlangsung tapi ada juga yang sudah selesai,” jelasnya.
Ia menyebut, personel gabungan sebanyak 600 personel yang terdiri dari 400 dari Polri, 100 Brimob, dan 100 TNI.
Baca juga: Bawaslu Kaltim: Jika Terbukti Politik Uang, Caleg Langsung Didiskualifikasi
Dengan penjagaan dari aparat tersebut, membuat para jemaat merasa aman dalam menjalankan misa Natal 2018 ini.
“Semoga Misa Natal ini berjalan dengan penuh khidmat dan kasih kepada seluruh manusia,” kata Andre, jemaat yang merasa aman dalam mejalankan Misa Natal 2018 ini.
Meski beberapa jemaat masih trauma terhadap insiden ledakan bom Oikumene pada 13 November 2016 lalu. Mereka memiliki rasa khawatir akan kehadiran orang asing.
"Masih trauma, kalau ada masuk orang yang kita tidak kenal, masih ada rasa rasa gelisah," ujar Diana Susanti Sinaga, ibunda Intan Olivia, korban ledakan bom Oikumene, yang membawa anaknya saat Misa Natal kali ini. (*)
Video Terkini EKSPOS TV: V1MAST Dan GAN2 SAHARA Guncang Formi Vaganza Kutim 2018
ekspos tv

