PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Rekayasa Jasad Bayi Ditukar Bantal di Bontang, Polisi Kaji Unsur Pidana

Home Berita Rekayasa Jasad Bayi Dituk ...

Belakangan, polisi mengungkap cerita itu ternyata direkayasa sepasang suami istri. Motifnya pun terungkap. Namun, apakah rekayasa yang telanjur viral ini bisa berujung pidana?


Rekayasa Jasad Bayi Ditukar Bantal di Bontang, Polisi Kaji Unsur Pidana
Tangkapan layar proses pemakaman jasad bayi ditukar bantal di Bontang. Foto: Istimewa

EKSPOSKALTIM, Bontang - Cerita jasad bayi yang disebut tertukar dengan bantal saat pemakaman di Bontang telanjur viral di Facebook.

Sejumlah pengguna mengaku menyaksikan langsung kejadian tersebut. Namun, polisi mengungkap cerita itu ternyata direkayasa oleh AR bersama suaminya, DN.

Kini, polisi mengkaji kemungkinan unsur pidana dari perbuatan pasangan tersebut.

Kisah ini mulai ramai diperbincangkan setelah akun Facebook Devifay Van Java mengunggah cerita tersebut pada Rabu (28/10/2026).

Dalam unggahannya, ia menceritakan keterkejutannya setelah menerima telepon dari pihak keluarga almarhum terkait kejadian itu.

“Innalillahi wa innailaihi rojiun. Jasad bayi dirubah jadi bantal. Untung dibuka pas mau dikubur,” tulisnya.

Cerita serupa diunggah pengguna Facebook bernama Fauziah Zahra. Ia mengaku ikut mengantar jenazah hingga ke pemakaman dan menyaksikan kejadian yang menurutnya baru diketahui ketika prosesi pemakaman berlangsung.

"Saat masih di rumah, semua orang di situ nggak ada yang tahu kalau itu isinya bantal. Orang tua bayi melarang membuka karena udah bersih katanya," jelasnya.

Fauziah menyebut orang-orang yang hadir awalnya tidak mengetahui isi bungkusan yang dibawa keluarga. Ia juga mengaku melihat seorang ustad kesulitan menemukan bagian wajah ketika hendak memasukkan bungkusan tersebut ke liang kubur.

Menurut pengakuannya, isi bungkusan baru diketahui setelah dibuka dan ternyata berupa bantal. "Ini bukan hoax, kita gatau kenapa ibu ini melakukan seperti ini, dan kita juga liat setiap hari dia hamil dengan perut gede," sebutnya.

Informasi lain disampaikan akun Umi Marfuah. Ia menyebut RS Yabis tidak memiliki catatan pasien atas nama perempuan berinisial AR yang menjalani persalinan maupun mengurus jenazah bayi dalam beberapa pekan terakhir.

Umi juga menyatakan AR tidak pernah memeriksakan kehamilan di rumah sakit tersebut. Menurut keterangannya, pemeriksaan yang dilakukan AR hanya berupa USG terkait gangguan menstruasi.

Dalam unggahannya, Umi menyebut suami AR menunggu di luar saat istrinya menjalani pemeriksaan. Kondisi itu diduga membuat sang suami mengira istrinya sedang menjalani pemeriksaan kehamilan.

Umi juga menyebut AR kemudian meminta dijemput di RS Yabis dengan membawa bungkusan berisi bantal dan kain kafan. Informasi tersebut menjadi bagian dari cerita yang beredar di media sosial mengenai asal mula dugaan jasad bayi yang tertukar dengan bantal.

Namun, keterangan-keterangan dari akun media sosial tersebut masih merupakan pernyataan para pengunggah. Polisi kemudian menyampaikan hasil pemeriksaan yang mengungkap bahwa cerita tersebut merupakan rekayasa.

Polisi Ungkap Motif Rekayasa

Kasatreskrim Polres Bontang AKP Putu Ari Sanjaya mengatakan berdasarkan hasil pemeriksaan dan pengakuan pasangan tersebut, cerita jasad bayi yang tertukar dengan bantal memang dibuat-buat oleh AR dan DN.

"Jadi sesuai pemeriksaan bukti dan pengakuan pasutri itu, ya semua ini di buat-buat," katanya, Kamis (29/10/2026).

Putu menjelaskan AR merekayasa cerita tersebut karena takut dianggap tidak bisa hamil oleh keluarganya maupun keluarga mertuanya.

Terungkapnya rekayasa itu kemudian menyisakan persoalan lain, apakah perbuatan pasangan tersebut memenuhi unsur tindak pidana?

Putu mengatakan hal itu perlu dilihat berdasarkan unsur perbuatan serta ada atau tidaknya pihak yang merasa dirugikan.

“Sejauh ini belum ada pihak yang merasa dirugikan melapor ke kami,” katanya.

Selain memeriksa perkara tersebut, polisi meminta AR dan DN membuat video klarifikasi untuk menjelaskan bahwa informasi yang telanjur beredar luas itu merupakan hasil rekayasa.

Putu juga mengimbau masyarakat agar lebih bijak menggunakan media sosial dan tidak terburu-buru menyimpulkan atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :