Pemkot kini menunggu jadwal uji beban oleh tim UGM dan menuntaskan sertifikasi yang disebut menjadi perintis penerapan SLF untuk terowongan di Indonesia.
EKSPOSKALTIM, Samarinda - Target pengoperasian Terowongan Samarinda yang semula diperkirakan tercapai pada September 2026 bergeser. Pemerintah Kota masih menunggu tahapan lanjutan pengujian, termasuk jadwal tim penguji dari Universitas Gadjah Mada.
Pergeseran target itu bukan semata berkaitan dengan pekerjaan konstruksi. Pemkot menyebut proses pemenuhan Sertifikat Laik Fungsi (SLF) menjadi tahapan tersendiri karena Terowongan Samarinda diposisikan sebagai proyek percontohan atau pilot project untuk penerapan SLF pada terowongan di Indonesia.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Samarinda, Hendra Kusuma, mengatakan proses tersebut membutuhkan pemenuhan persyaratan teknis dan administratif secara menyeluruh.
Menurut dia, kementerian pun belum memiliki prosedur operasional standar (SOP) SLF terowongan yang dapat langsung diterapkan pada proyek ini.
“Karena belum pernah ada satu pun terowongan di Indonesia yang memiliki SLF. Jadi ini yang pertama kali di-SLF-kan. Tapi kalau dibilang mencoba, trial and error ya enggak juga, intinya pilot project,” ujar Hendra.
Situasi itu menjelaskan mengapa perkiraan pengoperasian pada September tidak berjalan sesuai rencana. Hendra menyebut data dasar, dokumen yang dibutuhkan, hingga instrumen pengujian telah disiapkan. Tahapan yang masih ditunggu ialah jadwal rapat lanjutan bersama tim penguji UGM sebelum mereka turun melakukan pengujian beban.
Hendra menjelaskan, penjadwalan tidak sepenuhnya bisa ditentukan oleh Pemkot. Tim penguji terdiri dari kalangan akademisi dan tenaga ahli yang juga memiliki tanggung jawab mengajar maupun pekerjaan profesional lainnya.
“Kita tahu mereka punya schedule. Kalau kita penginnya kalau bisa continuous, setiap minggu ada terus, cuma kan tidak bisa,” ujarnya.
Karena itu, Pemkot memilih mengikuti tahapan yang diminta tim penguji dan memastikan seluruh persyaratan dipenuhi. Hendra menyebut Wali Kota Samarinda telah mengingatkan agar tidak ada dokumen administrasi yang terlewat dalam proses pengajuan SLF.
“Jadi ya kita benar-benar respek dengan apa yang mereka minta, kita coba penuhi semua, karena pesan Pak Wali Kota jangan sampai ada satu persyaratan administrasi yang terlewatkan,” kata Hendra.
Perpanjangan mulut terowongan untuk antisipasi longsor
Selain proses pengujian dan sertifikasi, penanganan potensi longsor di sekitar mulut terowongan menjadi bagian penting dari pembangunan. Pemkot sebelumnya memperpanjang struktur pada sisi inlet dan outlet setelah terjadi longsor di kawasan tersebut.
Hendra menjelaskan, perpanjangan mulut terowongan merupakan salah satu langkah mitigasi agar material longsoran tidak langsung menutup akses terowongan apabila kejadian serupa kembali terjadi.
“Pun seandainya nanti masih ada longsoran lagi, itu tidak akan sampai menutup mulut terowongannya,” jelasnya.
Menurut Hendra, struktur tambahan tersebut dirancang dengan konstruksi yang sama seperti bagian terowongan di dalam. Desain itu juga mempertimbangkan kemungkinan penanganan lanjutan terhadap lereng di bagian atas.
“Jadi kalau seandainya nanti pun penanganan ke depan ada regrading atau menurunkan elevasi yang di puncak itu, tanahnya nanti dibuang lagi ke bawah,” tuturnya.
Penataan ulang lereng atau regrading merupakan pekerjaan berbeda dari perpanjangan struktur terowongan. Dalam pembahasan sebelumnya, penanganan lereng di bagian atas inlet sempat dikaitkan dengan usulan anggaran tambahan yang nilainya mencapai puluhan miliar rupiah. Usulan tersebut menjadi perhatian DPRD karena proyek telah mengalami penambahan pekerjaan setelah longsor.
Di sisi lain, Pemkot masih harus menuntaskan proses pengujian dan pemenuhan persyaratan kelayakan fungsi sebelum terowongan dapat digunakan masyarakat. Hendra menegaskan, target tertinggi Pemkot tetap mengupayakan terowongan dapat beroperasi pada akhir 2026.
“Setelah persyaratan administrasi untuk SLF selesai, prosesnya dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya,” pungkasnya.



