Azzam (12) ditemukan meninggal dunia di kolam bekas tambang Tanah Merah. Sebelumnya, Andi Muhammad Alfarizki tewas di lubang tambang Sempaja Utara, kasus yang memunculkan sorotan JATAM terhadap tanggung jawab perusahaan dan pengawasan pemerintah.
EKSPOSKALTIM, Samarinda– Belum genap sebulan sejak seorang bocah berusia tujuh tahun tewas tenggelam di kolam bekas tambang kawasan Bayur, Samarinda Utara, peristiwa serupa kembali merenggut nyawa anak di Samarinda.
Azzam, bocah berusia 12 tahun, ditemukan meninggal dunia setelah tenggelam di lubang bekas tambang kawasan Rimbawan, Kelurahan Tanah Merah, Selasa (13/10).
Azzam sempat dinyatakan hilang saat bermain bersama lima temannya di sekitar lokasi. Tim SAR gabungan melakukan pencarian sejak menerima laporan sekitar pukul 13.30 Wita. Setelah beberapa jam penyisiran dan penyelaman belum membuahkan hasil, korban akhirnya ditemukan sekitar pukul 19.15 Wita.
Koordinator Pos SAR Samarinda, Aries Setiawan, mengatakan informasi awal yang diterima menyebutkan korban sedang bermain di kawasan bekas tambang bersama rekan-rekannya. Korban diketahui tidak bisa berenang.
Menurut Aries, korban diduga masuk ke air dan sempat berusaha dibantu oleh teman-temannya. Namun, upaya tersebut tidak berhasil karena korban tidak dapat dijangkau.
“Kebetulan korban ini tidak bisa berenang. Entah kenapa dia menyeburkan diri, akhirnya dibantu sama rekan-rekannya, hanya saja tidak bisa terjangkau oleh teman-temannya,” ujar Aries.
Tim SAR kemudian memusatkan pencarian di titik yang diduga menjadi lokasi korban tenggelam. Pada tahap awal, penyelaman dilakukan dengan radius pencarian sekitar 10 meter. Hingga pukul 18.00 Wita, korban belum ditemukan.
Pencarian berlanjut hingga malam. Sekitar pukul 19.15 Wita, tim SAR gabungan akhirnya menemukan Azzam.
“Alhamdulillah, korban ditemukan oleh unsur SAR gabungan yang ada di lapangan,” kata Aries.
Setelah ditemukan, jenazah korban dibawa ke rumah duka. Aries memastikan Azzam ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Korban diketahui merupakan warga Talangsari RT 02.
Lihat postingan ini di Instagram
Ketua RT 08, Robi, mengatakan anak-anak kerap mendatangi lokasi itu, terutama saat akhir pekan dan hari libur. Warga, kata dia, sudah berulang kali menegur mereka, tetapi anak-anak tersebut tetap kembali.
“Sering kita tegur. Karena kalau sudah ditegur paling ngumpet di mana, nanti kembali lagi,” ujar Robi.
Ia mengaku tidak mengetahui secara persis kronologi kejadian yang menimpa Azzam. Robi baru menerima informasi setelah peristiwa itu terjadi. Ia juga mengatakan anak-anak yang kerap bermain di kawasan tersebut bukan warga setempat.
Robi juga menyebut papan peringatan pernah dipasang di lokasi tersebut. Namun, kondisinya kini telah lapuk.
“Dulunya ada, cuma karena sudah lapuk,” pungkasnya.
Korban ke-56, Pemerintah Dinilai Nirempati
Kematian Azzam menambah daftar korban lubang tambang di Kalimantan Timur menjadi 56 orang berdasarkan pembaruan hitungan dari catatan JATAM. Sebelumnya, Andi Muhammad Alfarizki tewas di lubang bekas tambang Sempaja Utara pada 15 September 2026 sebagai korban ke-55.
Sebanyak 30 korban tercatat meninggal dunia di Samarinda.
Menanggapi kematian Azzam, Windy Pranatata dari Divisi Advokasi JATAM Kaltim mengkritik pemerintah yang dinilainya belum menunjukkan tindakan nyata untuk menghentikan tragedi lubang tambang.
“Tidak ada sama sekali, hanya omong-omong kosong, pejabat di Kaltim semua tidak ada tindakan nyata apapun untuk menyudahi bencana ini, nirempati!” ujarnya.
Windy mendesak pemerintah segera menjelaskan langkah konkret, mulai dari mitigasi hingga penegakan hukum. Ia juga menyebut kemungkinan kejadian berulang di konsesi yang sama milik Putera Mahakam Mandiri, jika lokasi kejadian telah dipastikan.



