Sebagian besar wilayah Kalimantan Timur diprakirakan baru memasuki musim hujan pada pertengahan November 2026. Namun, Paser harus menunggu lebih lama.
EKSPOSKALTIM, Samarinda— Kalimantan Timur (Kaltim) diprakirakan menghadapi awal musim hujan 2026/2027 lebih lambat dibandingkan kondisi normal. Fenomena El Nino kategori sangat kuat yang diprediksi bertahan hingga awal 2027 menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergeseran musim, bahkan di sejumlah wilayah penundaan awal hujan diperkirakan mencapai satu bulan.
Prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan, sebagian besar wilayah Kaltim baru mulai memasuki musim hujan pada pertengahan November 2026. Sementara itu, wilayah barat hingga tengah diperkirakan lebih dahulu mengalami awal musim hujan pada akhir Oktober.
Forecaster BMKG Samarinda, Bai'at Alhadid, menjelaskan karakteristik musim di Kaltim tidak seragam. Secara umum, wilayah ini terbagi dalam dua zona musim, yakni Monsunal 1 dan Zona Musim (ZOM) Monsunal 2, yang memiliki pola curah hujan berbeda.
Wilayah Kaltim bagian barat umumnya memiliki pola hujan sepanjang tahun. Adapun wilayah tengah hingga timur mengalami penurunan curah hujan pada bulan-bulan tertentu sehingga memiliki pola musim hujan dan kemarau yang lebih jelas.
“Untuk Kaltim, kami prediksikan bahwa awal musim hujan secara umum terjadi di pertengahan November 2026. Meskipun demikian, awal musim hujan ini secara umum bervariasi,” kata Bai'at, Jumat (9/10/2026).
Perbedaan waktu tersebut membuat sejumlah wilayah berpotensi memasuki musim hujan lebih awal, sedangkan wilayah lainnya harus menunggu lebih lama. Selain wilayah barat hingga tengah yang diprakirakan mulai mengalami musim hujan pada akhir Oktober, sebagian besar wilayah Kaltim diprediksi menyusul pada pertengahan November.
Sementara itu, sebagian kecil wilayah Kutai Barat bagian tengah, Kutai Kartanegara bagian tengah, dan Berau bagian tengah diprakirakan masih mengalami musim kemarau pada awal November. Wilayah selatan Kaltim, khususnya Kabupaten Paser, justru diprediksi menjadi wilayah yang paling akhir memasuki musim hujan, yakni pada akhir November 2026.
Mundurnya awal musim hujan berkaitan dengan pengaruh El Nino yang masih berlangsung. Menurut Bai'at, fenomena tersebut tidak hanya memengaruhi penurunan curah hujan selama kemarau, tetapi juga diprakirakan berdampak pada awal musim hujan tahun ini.
“Itulah menyebabkan awal musim hujan di hampir seluruh wilayah Kalimantan Timur lebih mundur atau datangnya lebih lambat dibanding kondisi normalnya,” jelasnya.
Ia menyebut, di beberapa wilayah, awal musim hujan bahkan diprakirakan mundur hingga satu bulan dari waktu normal. Pengaruh El Nino juga diperkirakan masih terasa terhadap karakteristik musim hujan 2026/2027. BMKG memprakirakan sifat musim hujan di Kaltim secara umum berada pada kategori normal hingga bawah normal.
“Secara umum untuk musim hujan tahun 2026/2027 ini masih dipengaruhi oleh adanya El Nino yang terjadi, itu diprakirakan sifat musim hujan di wilayah Kaltim itu umumnya normal hingga bawah normal,” kata Bai'at.
Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena masuknya musim hujan tidak serta-merta berarti curah hujan akan langsung meningkat secara merata di seluruh wilayah. Perbedaan zona musim dan sifat hujan membuat kondisi setiap daerah dapat berbeda.
Bai'at menyampaikan El Nino kategori sangat kuat masih terjadi hingga awal Oktober 2026 dan diprakirakan bertahan sampai awal 2027. Sepanjang 2026, fenomena tersebut telah menyebabkan penurunan curah hujan yang signifikan di Kaltim.
Namun, jika mengacu pada kejadian El Nino sebelumnya pada 1997 dan 2015, curah hujan di wilayah Kaltim diperkirakan mulai meningkat pada November dan Desember.
Selain awal musim hujan yang mundur, BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Kaltim mengalami puncak musim hujan pada Desember 2026 dan Januari 2027. Mayoritas wilayah diprakirakan mencapai puncak pada Desember, sedangkan sebagian lainnya pada Januari.
“Untuk prediksi puncak musim hujannya untuk tahun 2026/2027, secara umum di sebagian besar wilayah Kaltim itu diprakirakan akan mengalami puncak musim hujan pada bulan Desember 2026 dan Januari 2027,” ujarnya.
Meski demikian, ada karakteristik musim yang perlu diperhatikan dalam menyusun langkah antisipasi. Kaltim secara umum memiliki dua puncak musim hujan dalam satu siklus tahunan.
Puncak pertama biasanya terjadi pada Desember hingga Januari, sedangkan puncak kedua dapat berlangsung pada Maret, April, hingga Mei.
“Itu yang harus diperhatikan ke depannya sehingga perlu ditingkatkan kewaspadaan pada bulan-bulan tersebut,” kata Bai'at.
Dengan pola tersebut, kewaspadaan terhadap potensi dampak cuaca perlu dipertahankan bukan hanya saat puncak hujan pertama pada akhir 2026 hingga awal 2027, tetapi juga ketika memasuki periode puncak kedua pada Maret–Mei.
BMKG memperkirakan durasi musim hujan 2026/2027 di Kaltim berlangsung selama 19–30 dasarian atau sekitar enam hingga sepuluh bulan. Dasarian merupakan periode sepuluh hari yang digunakan dalam pemantauan dan prakiraan iklim.
Rentang durasi tersebut menunjukkan musim hujan dapat berlangsung berbeda-beda antardaerah. Karena itu, informasi awal musim, sifat hujan, dan perkiraan puncak musim perlu menjadi dasar bagi pihak terkait dalam menyesuaikan langkah antisipasi sesuai kondisi wilayah masing-masing.
Bai'at menegaskan musim hujan 2026/2027 secara umum diprakirakan datang lebih lambat dibandingkan rata-rata normal. Sementara itu, peningkatan curah hujan yang diperkirakan mulai terjadi pada November dan Desember perlu dicermati bersama dengan prediksi puncak hujan pada Desember 2026 dan Januari 2027.



