Tekanan El Nino mulai terasa. Inflasi Kaltim September 2026 naik menjadi 3,98 persen per tahun, didorong oleh komoditas cabai rawit, bayam, dan kangkung akibat pasokan seret.
EKSPOSKALTIM, Samarinda - Inflasi Kalimantan Timur pada September 2026 tetap terkendali, meski menunjukkan tren peningkatan.
Berdasarkan data Indeks Harga Konsumen (IHK), Kaltim mencatat inflasi 0,18 persen secara bulanan (mtm), naik 0,10 persen pada Agustus 2026. Secara tahun kalender inflasi mencapai 2,82 persen (ytd) dan tahunan 3,98 persen (yoy).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, Jajang Hermawan, mengatakan inflasi terutama disumbang kelompok makanan, minuman, tembakau serta perawatan pribadi dan jasa lainnya.
“Tekanan pada kelompok makanan, minuman dan tembakau berdampak pada terbatasnya pasokan sejumlah komoditas pangan dari sentra produksi akibat kondisi cuaca dan fenomena El Nino,” ujarnya.
Kondisi yang berdampak pada menurunnya produktivitas hortikultura dan pangan, seperti cabai dan beras.
Secara spasial, inflasi terjadi di seluruh daerah pembentuk IHK Kaltim. Samarinda 0,09 persen (mtm), Balikpapan 0,08 persen, Berau 0,61 persen, dan Penajam Paser Utara 0,52 persen.
Komoditas pemicu inflasi tertinggi adalah cabai rawit, bayam, kangkung, tomat, dan jagung manis. Sementara pengendalian inflasi yakni penurunan harga ikan layang, angkutan udara, ikan tongkol, bahan bakar rumah tangga, dan daging ayam ras.
Jajang menegaskan pengendalian inflasi terus diperkuat melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Kaltim dengan strategi 4K: Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.
Untuk keterjangkauan harga, TPID menggelar Gerakan Pangan Murah dan penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di Samarinda, Berau, Kutai Kartanegara, Bontang, Kutai Barat, dan Kutai Timur.
Dari sisi pasokan, penyaluran beras SPHP hingga September 2026 telah mencapai 80 persen. Produksi pangan juga didorong melalui teknologi pertanian modern dan optimalisasi pompa portabel di lahan yang berdampak pada kekeringan.
Untuk kelancaran distribusi, TPID memperkuat koordinasi lintas sektor dengan menghubungkan stok BBM dan LPG di SPBU serta mendukung perbaikan akses jalan darat ke Mahakam Ulu.
Sementara komunikasi efektif dilakukan melalui rapat koordinasi mingguan bersama Kemendagri dan laporan pemantauan dini inflasi di forum TPID.
Ke depan, TPID se-Kaltim akan memperkuat mitigasi dini melalui strategi 4K dan Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS) untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.

