Kabut asap yang dalam beberapa pekan terakhir menyelimuti Balikpapan mulai tercermin dalam data kesehatan.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Balikpapan mencatat sebanyak 4.125 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dalam kurun waktu sekitar dua pekan terakhir. Peningkatan temuan seiring menguatnya paparan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Balikpapan.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Elisabeth Rassi, mengungkapkan bahwa ISPA konsisten menempati daftar sepuluh penyakit terbanyak di fasilitas pelayanan kesehatan daerah. Kendati demikian, laju kenaikan penderitanya dinilai belum sampai pada taraf lonjakan ekstrem.
"ISPA memang masuk dalam rutinitas sepuluh penyakit terbanyak di Balikpapan. Peningkatan kasus baru mulai terlihat sekitar dua minggu terakhir ini, persis saat dampak kabut asap mulai terasa kuat setiap pagi," ujar Elisabeth di Balikpapan.
Berdasarkan hasil pemantauan terpadu bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan BPBD Balikpapan, Indeks Kualitas Udara (IKU) Kota Balikpapan saat ini berada pada kategori sedang.
Sebagai langkah antisipasi, Dinkes menginstruksikan 27 puskesmas dan 16 rumah sakit untuk memperketat monitoring dan siap memberikan penanganan medis.
"Kami mengimbau masyarakat untuk terus menjaga daya tahan tubuh melalui Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta mengenakan masker apabila kabut asap mulai mengganggu kelancaran aktivitas di luar ruangan," terangnya.
Diare Akut Turut Dipantau
Selain penyakit saluran pernapasan, Dinkes Balikpapan juga menaruh perhatian pada tren kemunculan kasus diare akut selama musim kemarau.
Elisabeth mencatat adanya kenaikan kasus diare akut sebesar 2,5 persen dibandingkan periode sebelumnya. Penurunan kualitas sumber air bersih warga saat musim kering ditengarai menjadi pemicu utama.
Berdasarkan hasil pemantauan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) Kota Balikpapan, jumlah kasus Diare Akut pada Minggu ke-30 sampai dengan Minggu ke-33 Tahun 2026 menunjukkan kecenderungan menurun dibandingkan periode yang sama Tahun 2025.
Namun demikian, pada Minggu ke-34 Tahun 2026 terjadi peningkatan kasus yang bermakna menjadi 524 kasus, melampaui jumlah kasus pada minggu yang sama Tahun 2025 (466 kasus) sekaligus menjadi angka tertinggi dalam periode lima minggu terakhir.
"Masyarakat harus memastikan air yang digunakan benar-benar bersih dan higienis. Kebiasaan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan serta memastikan kebersihan jajanan anak-anak sangat vital untuk mencegah diare maupun penyakit kulit selama musim kemarau," pungkasnya.



