Kaltim kembali membawa pulang piala bergilir MTQ Nasional. Mempertahankan gelar juara umum setelah mengungguli tuan rumah Jawa Tengah yang mengoleksi 208 poin.
EKSPOSKALTIM, Samarinda- Kalimantan Timur (Kaltim) keluar sebagai juara umum Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026. Kaltim mengoleksi 288 poin, mengungguli tuan rumah Jawa Tengah yang finis sebagai runner-up dengan 208 poin.
Adapun posisi ketiga ditempati Kafilah DKI Jakarta, yang akan menjadi tuan rumah MTQ Nasional Tahun 2027 mendatang, dengan perolehan 129 poin.
Hasil tersebut diumumkan Ketua Dewan Hakim Nasional MTQ Nasional XXXI, Syibli Syarjaya, dalam acara penutupan MTQ Nasional XXXI di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (19/9).
Piala bergilir secara resmi diberikan langsung oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar kepada Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas'ud.
Bagi Kaltim, capaian ini sekaligus mempertahankan gelar juara umum yang diraih pada MTQ Nasional XXX tahun 2024 di Samarinda.
Kaltim juga sebelumnya mencatat prestasi serupa pada Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadis (STQH) Nasional XXVIII Tahun 2025 di Kendari.
Sementara itu, Jawa Tengah sebagai tuan rumah mampu mengamankan posisi kedua nasional dengan selisih 80 poin dari Kaltim.
Diketahui, MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 mempertandingkan 8 cabang, 24 golongan, dan total 48 kategori lomba.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan estafet penyelenggaraan MTQ Nasional selanjutnya akan berlanjut ke Jakarta pada 2027.
“Piala bergilir kembali ke Kalimantan Timur. Sampai jumpa di MTQ berikutnya di Jakarta,” ujar Nasaruddin.
Menurut Nasaruddin, berakhirnya kompetisi MTQ bukan berarti berakhir pula upaya membumikan nilai-nilai Al-Qur’an di tengah masyarakat.
“Malam ini musabaqah berakhir. Para juara telah ditetapkan dan mereka akan kembali ke daerah masing-masing. Namun, tugas kita untuk membumikan Al-Qur’an justru dimulai setelah kemeriahan ini,” tuturnya.
Nasaruddin juga menyampaikan empat arah pengembangan MTQ ke depan. Salah satunya menjadikan MTQ bukan sekadar ajang perlombaan, tetapi berkembang menjadi ekosistem pembelajaran dan peradaban Al-Qur’an.
MTQ juga diarahkan semakin inklusif dengan memperluas akses bagi penyandang disabilitas, termasuk melalui tenaga pengajar, metode pembelajaran, serta fasilitas keagamaan yang ramah disabilitas.
Selain itu, generasi Qurani didorong mampu mengikuti perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), tanpa meninggalkan integritas dan nilai moral.
“Teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperluas pendidikan, dakwah, dan akses pengetahuan, dengan tetap mewaspadai disinformasi, manipulasi, penyalahgunaan data, dan ujaran kebencian di ruang digital,” kata Nasaruddin.
Berdasarkan perhitungan Pemprov Jawa Tengah dan BPS yang disampaikan dalam penutupan, perputaran ekonomi selama penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI diperkirakan mencapai Rp1,2 triliun.
“Ini menunjukkan bahwa syiar Al-Qur’an berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi rakyat dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tandasnya.


