Sebanyak 185 kejadian karhutla tercatat melanda Samarinda hingga pertengahan September. Di balik kepungan asap dan penurunan kualitas udara, kekeringan mulai menekan produksi air bersih yang menjadi kebutuhan ribuan warga.
EKSPOSKALTIM, Samarinda — Dampak kemarau panjang dan amukan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kota Samarinda kian meluas. Hingga Pertengahan September 2026, catatan insiden kebakaran telah menyentuh angka ratusan kali dengan luasan area terdampak yang terus membengkak, memicu penurunan kualitas udara di sejumlah titik perkotaan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sekaligus Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda, Suwarso, membeberkan data terbaru tersebut usai menggelar rapat koordinasi bersama Komisi III DPRD Kota Samarinda.
"Kejadiannya 185 kali sampai dengan kemarin tanggal 14 September. Luasnya 382,93 hektare total yang terbakar," ungkap Suwarso kepada EksposKaltim, Selasa (15/9).
Ia memaparkan bahwa eskalasi Karhutla terparah bertumpu di tiga wilayah kecamatan utama. Angka tertinggi berada di Kecamatan Palaran dengan luas 149 hektare, sementara di Kecamatan Sambutan dengan luasan 125 hektare, serta Kecamatan Samarinda Utara dengan luas 61 hektare.
“Tiga besarnya itu. Dan beberapa kejadian ada yang terjadi berulang," bebernya.
Maraknya insiden Karhutla tersebut berdampak langsung pada paparan kabut asap dan fluktuasi indeks kualitas udara di Ibu Kota Kaltim. DLH mencatat bahwa kabut asap sempat mengarahkan indikator udara ke level tidak sehat pada jam-jam tertentu, khususnya di kawasan utara dan timur kota.
"Tadi ditampilkan untuk kondisi ini sedang (secara umum). Tapi di beberapa wilayah mendapat perhatian khusus, seperti Samarinda Utara, Sambutan, dan Palaran," jelas Suwarso.
Ia menggambarkan fenomena perubahan mutu udara harian tersebut secara rinci. Pihaknya sempat memantau perubahan kualitas udara yang berubah pada waktu tertentu.
“Tapi di sekitar jam 10.00 - 12.00 Wira itu sudah mulai membaik menjadi kualitas udaranya sedang. Itu artinya masih aman untuk beraktivitas di luar rumah tapi tetap menggunakan masker," urainya.
Merespons rentetan dampak kekeringan dan kemunculan titik api yang masif ini, penanganan di lapangan kini tak lagi sekadar berfokus pada pemadaman fisik di lokasi kebakaran.
Suwarso menegaskan bahwa Pemkot Samarinda juga harus membagi konsentrasi untuk menanggulangi krisis pasokan air bersih bagi masyarakat yang kian mendesak.
"Karena beberapa IPA PDAM di Kota Samarinda tidak berproduksi 24 jam," paparnya.
Guna mengatasi keterbatasan moda distribusi air bersih dan percepatan pemadaman, Komisi III DPRD Kota Samarinda bersama pemerintah daerah sepakat untuk menggali potensi kontribusi dari sektor swasta.
"Ya walaupun sudah ada beberapa kontribusi, beberapa mobil-mobil tangki perusahaan itu selalu menyuplai air terhadap mobil-mobil relawan, Damkar, mobil BPBD yang sedang melakukan pemadaman di lini depan," pungkasnya.



