PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Stok Masker Kaltim dan Pemantauan Udara Masih Terbatas di Tengah Karhutla

Home Berita Stok Masker Kaltim Dan Pe ...

Karhutla belum melumpuhkan layanan kesehatan di Kalimantan Timur. Namun di balik kondisi yang masih terkendali, Dinkes Kaltim mengakui sejumlah celah masih mengintai. 


Stok Masker Kaltim dan Pemantauan Udara Masih Terbatas di Tengah Karhutla
Asap karhutla menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan Timur. Ancaman kesehatan meningkat seiring ratusan titik panas dan kondisi kekeringan yang meluas. Foto: Istimewa

EKSPOSKALTIM, Samarinda — Dinas Kesehatan Kalimantan Timur mengakui penanganan dampak kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menghadapi sejumlah keterbatasan. Mulai dari stok masker dan alat pelindung diri (APD), tenaga kesehatan untuk penjangkauan, hingga pemantauan kualitas udara yang belum optimal.

Meski sejauh ini karhutla belum menimbulkan krisis kesehatan berskala besar, Dinkes Kaltim menilai sejumlah celah tersebut perlu diperkuat untuk mengantisipasi peningkatan paparan asap dan kasus gangguan pernapasan.

Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin menjelaskan dalam laporan kesiapsiagaan krisis kesehatan, seluruh puskesmas dan rumah sakit di Kaltim masih beroperasi normal.

“Tidak ada fasilitas kesehatan yang rusak maupun mengalami disrupsi layanan akibat karhutla,” kata dia saat dikonfirmasi, Senin (7/9).

Namun, kondisi fasilitas yang tetap beroperasi normal tidak serta-merta berarti sistem kesehatan tanpa persoalan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah keterbatasan stok masker dan APD. Kondisi ini berisiko meningkatkan paparan asap, terutama bagi masyarakat di wilayah terdampak dan kelompok rentan.

Keterbatasan tenaga kesehatan untuk melakukan penjangkauan juga menjadi persoalan. Layanan di sejumlah wilayah masih cenderung bersifat pasif melalui puskesmas, sementara karakter geografis Kaltim membuat akses menuju masyarakat terdampak tidak selalu mudah.

Sebab itu Dinkes merekomendasikan pembentukan Tim Gerak Cepat (TGC) di tingkat puskesmas dengan melibatkan kader dan relawan untuk memperkuat penjangkauan apabila kondisi memburuk.

Persoalan lain berada pada pemantauan kualitas udara. Keterbatasan anggaran pengukuran Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) membuat informasi kualitas udara luar ruangan belum tersedia secara berkala di seluruh wilayah.

“Dinkes mendorong optimalisasi Sanitarian Kit untuk pemantauan PM2.5 sebagai salah satu upaya memperkuat informasi kualitas udara di wilayah terdampak,” ujar Jaya.

Di tengah sejumlah keterbatasan tersebut, Dinkes Kaltim menyiapkan kapasitas tambahan untuk menghadapi kemungkinan peningkatan gangguan pernapasan.
Salah satunya melalui penyediaan 20 Rumah Oksigen di sejumlah wilayah yang terdampak karhutla.

“Fasilitas ini disiapkan sebagai kapasitas cadangan apabila terjadi peningkatan kasus ISPA, asma maupun gangguan pernapasan lainnya,” ungkapnya.

Rumah Oksigen tersebut tersebar di 10 kabupaten/kota. Berau mendapat empat titik, yakni Puskesmas Sambaliung, Puskesmas Teluk Bayur, Puskesmas Campursari dan Puskesmas Pulau Derawan.
Kutai Timur mendapat tiga titik melalui Puskesmas Sangkulirang, Puskesmas Muara Wahau dan RSUD Kudungga. Kutai Kartanegara juga mendapat tiga titik, yakni Puskesmas Kota Bangun, Puskesmas Kembang Janggut dan RSUD A.M. Parikesit.

Dua titik disiapkan di Paser melalui Puskesmas Tanah Grogot dan RSUD Panglima Paser. Penajam Paser Utara juga mendapat dua titik melalui Puskesmas Penajam dan RSUD Sepaku.

Sementara Kutai Barat mendapat dua titik di Puskesmas Barong Tongkok dan RSUD Harapan Insani. Adapun Samarinda, Balikpapan, Bontang dan Mahakam Ulu masing-masing memiliki satu titik, yakni RSUD A.W. Sjahranie, RSUD Kanujoso Djatiwibowo, RSUD Taman Husada dan Puskesmas Ujoh Bilang.

Untuk menopang operasional Rumah Oksigen, Dinkes Kaltim menyiapkan 128 tabung oksigen portabel berukuran 1 meter kubik, 64 tabung oksigen besar berkapasitas 6 meter kubik, serta 197 set buffer stock regulator dan nasal cannula.

“Ribuan masker juga telah didistribusikan ke kecamatan yang terdampak paparan asap,” kata dia.

Namun, ancaman kesehatan yang dihadapi Kaltim tidak hanya berasal dari asap karhutla. Di Mahakam Ulu, kekeringan fluvial turut menguji kemampuan distribusi layanan kesehatan.

Surutnya Sungai Mahakam mengganggu jalur transportasi utama menuju Kecamatan Long Apari dan Long Pahangai, termasuk jalur distribusi obat-obatan dan logistik kesehatan. Kondisi tersebut menjadi persoalan tersendiri lantaran akses terhadap layanan kesehatan dan bantuan medis sangat bergantung pada transportasi sungai.

Pada saat bersamaan, berkurangnya ketersediaan dan kualitas air bersih meningkatkan risiko penyakit kulit serta gangguan pencernaan pada masyarakat di kawasan pedalaman.

Untuk merespons kondisi tersebut, Dinkes Kaltim menyiapkan dukungan berupa obat-obatan untuk gangguan pernapasan, cairan infus, vitamin serta sarana pemurnian air melalui klorinasi.

Kebutuhan logistik dari Mahakam Ulu juga mencakup masker medis dewasa dan anak, masker N95, obat pernapasan dan alergi, vitamin, hingga obat untuk gangguan pencernaan.

Karena itu, Dinkes Kaltim mengaktifkan sistem pelaporan cepat Event Based Surveillance (EBS) melalui SKDR dan SIPKK, serta kanal Public Health Emergency Operations Center (PHEOC). Sistem tersebut digunakan untuk memantau perkembangan kasus dan mendeteksi sedini mungkin apabila terjadi lonjakan penyakit yang berkaitan dengan karhutla maupun kondisi kekeringan.

"Melalui sistem tersebut, ancaman kesehatan akibat karhutla diupayakan dapat ditangani sebelum membebani fasilitas pelayanan kesehatan," ujar Jaya.

Dinkes juga mengingatkan kelompok yang paling rentan terhadap dampak asap, terutama anak-anak, lanjut usia dan penderita komorbid untuk membatasi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.

“Dan silakan menggunakan masker saat berada di wilayah yang terpapar asap,” pungkasnya.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :