PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Sungai Mahakam Surut, Pesut Hadapi Ancaman Baru

Home Berita Sungai Mahakam Surut, Pes ...

Kemarau ekstrem yang membuat Sungai Mahakam surut membuka ancaman baru bagi Pesut Mahakam. Populasi yang kini tersisa 66 ekor menghadapi risiko lebih besar. 


Sungai Mahakam Surut, Pesut Hadapi Ancaman Baru
RASI meminta kapal besar tak melintas malam saat Sungai Mahakam surut karena meningkatkan risiko terhadap Pesut Mahakam. (Foto : Yayasan Konservasi RASI)

EKSPOSKALTIM, Balikpapan — Penyusutan debit Sungai Mahakam akibat kemarau meningkatkan risiko keselamatan Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris), terutama jika kapal berukuran besar masih melintas di jalur sungai yang semakin sempit.

Peneliti Yayasan Konservasi RASI (Rare Aquatic Species of Indonesia), Danielle Kreb, mengatakan kondisi sungai yang surut membuat pesut cenderung lebih banyak berada di Sungai Mahakam utama karena kawasan tersebut memiliki ketersediaan ikan lebih banyak.

Pesut juga cenderung bergerak ke arah hulu mengikuti pergerakan ikan seperti kendia dan repang.

Berdasarkan data Februari 2026, populasi Pesut Mahakam saat ini tercatat sebanyak 66 ekor.

Menurut Danielle, penyusutan debit sungai membuat jalur dalam yang dapat dilalui kapal semakin sempit. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko pertemuan antara kapal dan pesut.

Karena itu, kapal besar seharusnya beralih menggunakan ukuran kapal yang lebih kecil ketika kondisi sungai tidak memungkinkan.

Danielle menjelaskan kebisingan kapal di dalam air dapat membuat pesut mengalami disorientasi.

Dalam kondisi tersebut, pesut justru dapat lebih sering muncul ke permukaan ketika kapal mendekat untuk memperkirakan posisi kapal. Situasi itu berpotensi membahayakan pesut, terutama ketika pelayaran berlangsung pada malam hari.

“Karena itu semestinya kapal besar tidak berlayar malam antara jam 18.00-06.00,” kata Danielle.

Pesut Bisa Terjebak di Perairan Dangkal

Selain risiko benturan dengan kapal, penyusutan sungai juga dapat membuat pesut terjebak di perairan dangkal atau badan air yang hampir terputus dari aliran utama.

Danielle mengatakan kejadian serupa pernah beberapa kali terjadi.

Salah satu kasus terakhir terjadi pada 2019 ketika seekor pesut jantan remaja bernama Setia terjebak di Danau Melintang, Kutai Barat, yang hampir mengering.

Saat itu, pesut tersebut harus diselamatkan melalui proses rescue.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penyusutan badan air dapat menjadi ancaman langsung bagi pergerakan Pesut Mahakam.

Namun, kemarau tidak selalu berarti ketersediaan makanan bagi pesut langsung berkurang.

Menurut Danielle, pada kondisi air surut justru banyak ikan keluar dari danau dan rawa menuju sungai. Kondisi tersebut dapat membuat ketersediaan ikan di sungai meningkat.

Meski demikian, kondisi itu tetap membutuhkan pengawasan terhadap aktivitas penangkapan ikan.

Alat Tangkap Ikan Perlu Diawasi

Danielle mengingatkan penggunaan alat tangkap yang tidak berkelanjutan atau bersifat monopolistik dapat mengganggu ruaya atau pergerakan ikan.

Beberapa alat tangkap dapat menutup jalur pergerakan ikan. Penggunaan bahan kasa yang menangkap ikan berukuran kecil juga berpotensi mengurangi sumber makanan yang seharusnya tersedia bagi ikan berukuran lebih besar dan Pesut Mahakam.

Selain itu, jaring insang juga dapat menjadi ancaman karena berpotensi menjerat pesut.

Menurut Danielle, jaring insang yang digunakan nelayan perlu ditempatkan di pinggir sungai dengan ukuran mata jaring yang tidak melebihi 8 sentimeter.

Ia juga meminta masyarakat melaporkan jika menemukan praktik penangkapan ikan menggunakan setrum atau racun.

Praktik tersebut dinilainya sangat berbahaya bagi ekosistem sungai dan Pesut Mahakam.

“9 persen dari pesut mati diketahui mati akibat racun,” kata Danielle.

Dia berharap masyarakat turut menjaga keberadaan Pesut Mahakam yang kini populasinya hanya tersisa 66 ekor berdasarkan data Februari 2026.

Kapal Besar dan Penangkapan Berlebihan Jadi Perhatian

Danielle menegaskan penyusutan Sungai Mahakam dapat menjadi kondisi berbahaya bagi pesut apabila masih dilalui tongkang atau kapal besar.

Selain risiko benturan, penangkapan ikan secara berlebihan juga dapat mengancam ketersediaan makanan bagi pesut dalam jangka panjang.

Karena itu, masyarakat diimbau menggunakan alat tangkap tradisional yang tidak dilarang serta menghindari penggunaan setrum dan racun.

Pengawasan oleh aparat juga dinilai perlu ditingkatkan, terutama terhadap praktik penangkapan ikan yang dapat merusak ekosistem.

Di sisi lain, alat tangkap berupa jaring yang digunakan nelayan perlu mendapat perhatian agar tidak menjerat pesut.

“Semoga pesut aman dan dijaga oleh masyarakat,” ujar Danielle.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :