Karenanya, cuaca di Kalimantan Timur masih didominasi berawan, sementara Kalimantan Selatan berpotensi diguyur hujan ringan.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Meski Bibit Siklon Tropis 94W mulai tumbuh di Samudra Pasifik utara Papua Barat, BMKG memastikan kondisi cuaca di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan masih relatif terkendali.
Namun, kemunculan bibit siklon tersebut tetap dipantau karena berpotensi memengaruhi pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia di tengah ancaman El Nino yang diperkirakan bertahan hingga awal 2027.
Setelah berbulan-bulan diwarnai peringatan cuaca kering dan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), BMKG kini memantau kemunculan Bibit Siklon Tropis 94W di Samudra Pasifik utara Papua Barat.
Prakirawan BMKG Ina Indah mengatakan bibit siklon tersebut memiliki kecepatan angin maksimum 15 knot dengan tekanan udara minimum 1.008 mb dan bergerak ke arah barat.
"Keberadaan bibit siklon tersebut membentuk daerah konvergensi dan konfluensi di wilayah Laut Filipina dan di sekitar pusat bibit siklon," ujarnya dalam prakiraan cuaca harian BMKG, Jumat (31/7).
BMKG menjelaskan pola pertemuan dan perlambatan angin yang terbentuk akibat aktivitas bibit siklon berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan, baik di sekitar pusat siklon maupun di sepanjang jalur konvergensi dan konfluensi.
Untuk wilayah Kalimantan, kondisi cuaca diprakirakan masih didominasi awan. Samarinda dan Banjarmasin diprediksi mengalami cuaca berawan hingga berawan tebal, sementara Tanjung Selor berpotensi diguyur hujan ringan.
Meski belum memicu cuaca ekstrem di Kalimantan Timur maupun Kalimantan Selatan, kemunculan bibit siklon ini menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino.
Sebelumnya, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyebut El Nino diproyeksikan bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama 2027. Kondisi tersebut bahkan berpotensi diperkuat oleh fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang diperkirakan muncul pada September hingga Desember 2026.
"Informasi iklim ini sejalan dengan prediksi BMKG, di mana fenomena El Nino diproyeksikan bertahan hingga awal 2027 dan memicu kondisi kemarau yang lebih kering dari normal," kata Faisal.
Mengantisipasi dampak kekeringan dan meningkatnya risiko karhutla, pemerintah saat ini juga mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah wilayah strategis. Upaya tersebut difokuskan untuk menjaga kelembapan lahan, khususnya kawasan gambut dan mineral, sekaligus menambah cadangan air pada waduk-waduk yang menjadi sumber pasokan air masyarakat.
BMKG mengimbau masyarakat di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan tetap memantau perkembangan cuaca melalui kanal resmi BMKG, mengingat dinamika atmosfer masih dapat berubah dalam beberapa hari ke depan. (ant)



.jpg)