PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Sepekan Beroperasi, Insinerator Samarinda Masih Hasilkan Asap

Home Berita Sepekan Beroperasi, Insin ...

Sepekan setelah beroperasi, jaringan insinerator Samarinda mulai menunjukkan perannya dalam mengurangi volume sampah. Meski begitu, asap pembakaran masih muncul di sejumlah proses operasional.


Sepekan Beroperasi, Insinerator Samarinda Masih Hasilkan Asap
Aktivitas pengelolaan sampah di fasilitas insinerator Kota Samarinda. Ekspos/Sintya

EKSPOSKALTIM, Samarinda– Seluruh unit insinerator milik Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mulai beroperasi. Namun Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda mengakui masih terdapat pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama terkait munculnya asap saat proses pembakaran sampah.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Samarinda, Suwarso, mengatakan hampir seluruh insinerator telah melewati tahap uji coba dan mulai beroperasi sejak sekitar sepekan terakhir. Kendala yang masih dihadapi saat ini hanya terjadi di satu lokasi, yakni kawasan Tani Aman, yang berkaitan dengan ketersediaan air.

"Jadi untuk sementara kami menyambung air dari kelurahan, jadi tidak ada masalah. Nanti ke depannya kami pasang jaringan sendiri. Untuk SDM juga sudah lengkap," ujarnya (1/7/2026).

Meski operasional berjalan, Suwarso tidak menampik masih muncul asap pada proses pembakaran. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya karena masih banyak sampah basah yang masuk ke ruang bakar.

Ia menjelaskan pada tahap awal pembakaran diperlukan tambahan kayu agar suhu pembakaran cepat stabil. Jika bahan bakar awal tidak mencukupi atau sampah yang masuk masih didominasi sampah basah, asap yang dihasilkan akan lebih tebal.

Meski demikian, hasil pemantauan kualitas udara selama uji coba menunjukkan emisi yang dihasilkan masih berada di bawah baku mutu lingkungan.

"Masih di bawah ambang batas. Masih aman. Tapi memang harus kita cari terus solusi untuk mengurangi asapnya ini," katanya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, DLH mulai mengubah pola pengelolaan sampah dengan memperkuat sistem pemilahan sebelum sampah masuk ke insinerator. Suwarso menegaskan ke depan insinerator hanya akan membakar sampah yang telah dipilah, khususnya sampah kering yang memiliki nilai kalor tinggi.

Sementara sampah organik atau basah akan diolah menjadi kompos, sedangkan residu akhir baru dikirim ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Menurutnya, skema tersebut akan menjadi pola baru pengelolaan sampah di Samarinda.

"Jadi ini akan kita terapkan pilah dulu. Dibakar sebagian yang kering. Yang sampah basahnya untuk pupuk. Residunya baru ke TPA," lanjutnya.

DLH juga akan memperkuat edukasi kepada masyarakat agar proses pemilahan dimulai sejak dari rumah tangga. Dengan demikian, sampah yang masih memiliki nilai ekonomi tidak perlu lagi dibawa ke TPS maupun insinerator.

Sebagai bagian dari edukasi tersebut, DLH terus mengembangkan program Sedekah Sampah yang kini dilaksanakan secara bertahap di seluruh kecamatan.

Dalam program tersebut, masyarakat dapat menukarkan sampah yang memiliki nilai ekonomi, seperti kertas, botol plastik, maupun kardus, dengan paket sembako yang disediakan melalui dukungan para donatur.

"Tadi untuk sementara kategorinya dibatasi. Minimal setengah kilogram. Tapi ini baru tahap awal, dan formulanya akan terus kita perbaiki," pungkas Suwarso.

Sebagai informasi, insinerator merupakan fasilitas pengolahan sampah dengan metode pembakaran termal yang digunakan untuk mengurangi volume timbunan sampah secara signifikan. Pemkot Samarinda saat ini membangun dan mengoperasikan 10 unit insinerator yang tersebar di sejumlah kecamatan sebagai bagian dari strategi pengurangan sampah harian yang mencapai lebih dari 600 ton.

Berbeda dengan sistem pembakaran konvensional, insinerator yang digunakan Samarinda diklaim tidak memakai cerobong asap terbuka, melainkan mengalirkan emisi hasil pembakaran ke bak filtrasi air sebelum diproses lebih lanjut. Residu pembakaran berupa abu juga direncanakan dimanfaatkan kembali sebagai bahan campuran produk seperti paving block.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :