PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Tiga Nyawa Melayang, Koalisi Sipil Gugat Pendekatan Militer dalam Program Koperasi Merah Putih

Home Berita Tiga Nyawa Melayang, Koal ...

Meninggalnya tiga peserta SPPI Koperasi Merah Putih memicu desakan investigasi dari koalisi masyarakat sipil. Mereka menilai pendekatan militer dalam program pengelolaan koperasi perlu dihentikan dan dievaluasi secara menyeluruh.


Tiga Nyawa Melayang, Koalisi Sipil Gugat Pendekatan Militer dalam Program Koperasi Merah Putih
Jenazah Novia Rahmadhani Sihotang (25), calon Manajer Program SPPI KDKMP, yang meninggal dunia saat mengikuti Latsarmil yang diadakan Kementerian Pertahanan RI di Jakarta, tiba di kediaman orang tuanya, di Jalan Sisingamangaraja, Kelurahan Wek V, Kecamatan Padangsidimpuan Selatan, Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara, Rabu (24/6/2026).(KOMPAS.COM/ORYZA PASARIBU)

EKSPOSKALTIM, Jakarta – Kematian tiga peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) saat mengikuti latihan dasar kemiliteran memicu kritik dari sejumlah organisasi masyarakat sipil.

Dalam pernyataan bersama yang dirilis Rabu (25/6/2026), Koalisi Masyarakat Sipil menyampaikan duka cita atas meninggalnya peserta program yang diselenggarakan Kementerian Pertahanan bekerja sama dengan TNI tersebut.

Koalisi menilai peristiwa tersebut semakin menunjukkan ketidaktepatan penerapan pendidikan dan pelatihan militer terhadap warga sipil yang dipersiapkan untuk menjalankan tugas di sektor koperasi.

Menurut mereka, tidak terdapat hubungan langsung antara profesionalisme pengelolaan koperasi dengan pelatihan dasar kemiliteran yang dijalani para peserta.

"Apalagi tidak ada hubungan sama sekali antara profesionalisme kerja menjalankan tugas koperasi dengan pelatihan militer," tulis koalisi dalam pernyataannya.

Koalisi juga mengkritik pelibatan TNI yang dinilai terlalu jauh dalam pelaksanaan program Koperasi Desa Merah Putih. Menurut mereka, pengelolaan koperasi semestinya dijalankan dengan pendekatan manajemen profesional dan modern yang berorientasi pada kebutuhan anggota.

Mereka berpendapat penggunaan pendekatan militer dalam program tersebut berpotensi menggeser esensi koperasi sebagai lembaga ekonomi masyarakat.

Selain itu, koalisi menilai program Koperasi Desa Merah Putih sejak awal mengandung sejumlah persoalan mendasar, termasuk potensi terjadinya penyimpangan yang sulit diawasi apabila melibatkan institusi militer.

Atas meninggalnya peserta pelatihan, Koalisi Masyarakat Sipil mendesak dilakukannya investigasi menyeluruh serta penegakan hukum untuk mengungkap penyebab kejadian.

Mereka juga meminta pihak yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan program dan pelatihan memberikan pertanggungjawaban atas hilangnya nyawa peserta yang berada di bawah pengawasan penyelenggara.

"Atas kematian peserta pelatihan, kami mendesak agar dilakukan investigasi dan penegakan hukum, dan pelaku atau struktur komando atas pelaksanaan program ini harus bertanggung jawab secara hukum," demikian bunyi pernyataan tersebut.

Koalisi juga mendesak pemerintah meninjau ulang program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih yang dinilai menimbulkan berbagai persoalan dalam implementasinya.

Mereka secara khusus meminta agar pelatihan dasar kemiliteran dalam program Koperasi Desa Merah Putih dihentikan, termasuk berbagai agenda yang dinilai mendorong militerisasi terhadap warga sipil.

Koalisi Masyarakat Sipil yang menandatangani pernyataan tersebut terdiri atas sejumlah organisasi, yakni De Jure, IMPARSIAL, Centra Initiative, Raksha Initiative, Human Rights Working Group, Indonesia Risk Center, dan SETARA Institute.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan membenarkan dua peserta SPPI meninggal dunia saat mengikuti latihan dasar kemiliteran di lokasi berbeda. Peserta bernama Anisa Muyassaroh yang mengikuti pendidikan di Balikpapan dinyatakan meninggal akibat heat stroke, sedangkan peserta bernama Yonanda Muhammad Taufiq yang mengikuti pelatihan di Baturaja meninggal akibat cardiac arrest atau henti jantung.

Kementerian Pertahanan menyatakan kedua peserta telah menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum mengikuti pelatihan dan memastikan akan melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan latihan dasar kemiliteran agar pelaksanaan program ke depan berjalan lebih aman.

Terbaru ada korban ketiga. Yakni, Novia Rahmadhani Sihotang. Ia peserta yang mengikuti pendidikan di Satdik Pusbahasa Kodiklatau Jakarta. Kemenhan melaporkan Novia mengalami gangguan kesehatan pada 22 Juni 2026 dan langsung mendapat penanganan dari tim kesehatan satuan. Karena kondisinya terus memburuk, Novia kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Angkatan Udara (RSAU) dr. Esnawan Antariksa untuk menjalani perawatan lebih lanjut.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :