Persoalan tempias hujan yang dikeluhkan pedagang dan pengunjung Pasar Pagi Samarinda dipastikan segera ditangani. Pemkot Samarinda telah menyiapkan anggaran Rp3 miliar untuk pemasangan sistem penutup bangunan yang ditargetkan selesai tahun ini.
EKSPOSKALTIM, Samarinda — Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda memastikan persoalan tempias hujan di Gedung Pasar Pagi tidak akan dibiarkan berlarut-larut. Anggaran penanganan pun telah disiapkan dan tengah memasuki proses lelang. Targetnya, seluruh pekerjaan rampung sebelum akhir tahun 2026.
Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setkot Samarinda, Marnabas Patiroy, menegaskan bahwa perbaikan tempias tinggal menunggu tahapan administrasi sesuai regulasi pemerintah.
“Yang jelas anggarannya sudah ada. Sekitar Rp3 miliar dan ini proses lelang. Pokoknya Desember harus sudah selesai,” ujarnya (19/6/2026).
Menurut Marnabas, anggaran tersebut dialokasikan melalui mekanisme pergeseran anggaran sehingga pelaksanaannya tetap harus mengikuti prosedur yang berlaku.
Dana tersebut juga tidak dapat dicairkan secara langsung melalui Belanja Tidak Terduga (BTT) seperti yang pernah diterapkan pada penanganan kondisi tertentu di Pasar Segiri.
Namun mantan Kepala Dinas Perdagangan Samarinda ini memastikan penanganan tempias menjadi prioritas pemerintah tahun ini dan tidak akan ditunda hingga pembahasan anggaran perubahan.
“Tahun ini harus selesai. Konsepnya sliding,” tegasnya.
Lebih jauh, Marnabas mengakui munculnya persoalan tempias merupakan kondisi yang tidak diperkirakan dalam tahap perencanaan awal pembangunan. Saat itu, desain bangunan lebih diarahkan untuk menciptakan sirkulasi udara yang baik di dalam gedung pasar.
“Kita memang mendatangkan ahli untuk sirkulasi udara maka salah satunya dibuka tanpa terpikir bahwa tempias. Tapi kan tidak ada perencanaan yang sempurna,” katanya.
Ia mengungkapkan selama proses pembangunan berlangsung, persoalan tersebut tidak pernah muncul sehingga baru diketahui setelah pasar mulai ditempati pedagang.
Selain faktor desain, menurutnya intensitas hujan yang terjadi belakangan ini juga jauh lebih tinggi dibanding perkiraan awal. Mengingat belum lama ini, BMKG menyebut periode transisi menuju musim kemarau masih menyimpan potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu hujan lebat dalam beberapa pekan ke depan.
“Karena kan intensitas hujan juga saat ini luar biasa,” tambahnya.
Meski demikian, pemerintah memilih tidak mengambil langkah instan yang berpotensi melanggar aturan pengelolaan keuangan daerah.
“Makanya lewat pergeseran anggaran. Kalau di perubahan kan kelamaan. Untungnya saja ketahuannya jauh di awal,” pungkasnya.
Sebagaimana diketahui, Pemkot Samarinda sebelumnya telah menyiapkan konsep pemasangan penutup berbentuk sliding pada sisi bangunan yang terdampak tempias. Sistem tersebut dirancang agar dapat dibuka dan ditutup sesuai kondisi cuaca sehingga tetap menjaga sirkulasi udara tanpa mengorbankan kenyamanan pedagang dan pengunjung saat hujan deras melanda kawasan Pasar Pagi.



