PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Bontang Geber Proyek Rp1,88 Triliun, Dorong Hilirisasi Sawit Jadi Bahan Kimia Industri

Home Berita Bontang Geber Proyek Rp1, ...

Proyek hilirisasi kelapa sawit senilai Rp1,88 triliun tengah disiapkan melalui skema Investment Project Ready to Offer (IPRO) untuk pengembangan industri turunan fatty amine di kawasan Kaltim Industrial Estate (KIE). Inilah langkah awal memperkuat rantai pasok industri nasional sekaligus menekan ketergantungan impor bahan kimia.


Bontang Geber Proyek Rp1,88 Triliun, Dorong Hilirisasi Sawit Jadi Bahan Kimia Industri
Kawasan industri di Kaltim Industrial Estate (KIE) Kota Bontang, lokasi yang siap dibangun industri fatti amine (ANTARA/ HO- DPMPTSP Bontang)

EKSPOSKALTIM, Bontang – Pemerintah Kota Bontang mendorong percepatan hilirisasi kelapa sawit melalui penawaran proyek investasi siap tawar (Investment Project Ready to Offer/IPRO) senilai Rp1,88 triliun. Proyek tersebut difokuskan pada pengembangan industri turunan minyak kelapa sawit berupa fatty amine yang akan dibangun di kawasan Kaltim Industrial Estate (KIE) Bontang.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bontang, Muhammad Aspian Nur, mengatakan penyusunan IPRO dilakukan untuk menghadirkan paket investasi yang lengkap dan siap ditawarkan kepada investor, seiring melimpahnya bahan baku kelapa sawit di wilayah sekitar Bontang.

“Proyek ini akan mampu memperluas rantai pasok pengolahan kelapa sawit secara masif, sekaligus menjadi jawaban konkret untuk mengurangi ketergantungan impor bahan kimia industri dalam negeri,” ujarnya di Bontang, Kamis (21/5). 

Menurut Aspian, industri fatty amine dipilih karena memiliki nilai tambah tinggi dan banyak digunakan dalam berbagai produk konsumsi, mulai dari deterjen, pelembut pakaian, kosmetik, hingga produk pembersih rumah tangga.

Lokasi proyek di KIE Bontang dinilai strategis karena berada dekat pelabuhan utama, kawasan industri yang sudah berkembang, serta didukung infrastruktur energi yang memadai. Selain itu, kawasan tersebut juga berdekatan dengan produsen amonia dan industri petrokimia yang menjadi bagian penting dari rantai pasok.

“Provinsi Kalimantan Timur sebagai salah satu lumbung kelapa sawit terbesar di Indonesia menjamin ketersediaan bahan baku jangka panjang,” kata Aspian.

Ia menjelaskan, kebutuhan fatty amine di pasar global terus meningkat. Pada 2022, permintaan dunia tercatat mencapai sekitar 1,7 juta ton dan diperkirakan tumbuh rata-rata 6,6 persen per tahun hingga 2029.

Dalam rencana pengembangannya, proyek ini akan memiliki kapasitas produksi 20 ribu ton fatty amine dan 4 ribu ton gliserol per tahun. Secara finansial, proyek tersebut dinilai memiliki prospek yang kuat dan menarik bagi investor.

“Bukan hanya mengejar profitabilitas, proyek ini juga dirancang sebagai pionir industri masa depan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” ujarnya.

Aspian menambahkan, kawasan industri nantinya akan mengadopsi konsep ramah lingkungan dengan fasilitas ruang terbuka hijau, penggunaan panel surya, green architecture, serta sistem bangunan pintar (smart building). (ant)


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :