Sepatu sempit bukan sekadar soal rasa tidak nyaman, melainkan bisa memicu rangkaian masalah medis serius
EKSPOSKALTIM, Samarinda - Penggunaan sepatu yang terlalu sempit sering dianggap persoalan ringan. Padahal, dalam praktik medis, kondisi ini dapat memicu berbagai gangguan pada kaki hingga berdampak pada kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Tekanan berlebih pada kaki akibat sepatu yang tidak sesuai ukuran menjadi pemicu awal. Gesekan terus-menerus di area jari, tumit, dan sisi kaki dapat menimbulkan lecet hingga luka terbuka. Dalam kondisi tertentu, terutama tanpa penanganan yang memadai, luka ini berpotensi berkembang menjadi infeksi serius.
Selain itu, tekanan dari sepatu sempit juga dapat menyebabkan kuku tumbuh ke dalam (ingrown toenail). Kondisi ini terjadi ketika kuku terdorong masuk ke jaringan kulit di sekitarnya, memicu nyeri dan meningkatkan risiko infeksi.
Dalam jangka panjang, mengutip artikel milik RRI berjudul "Dampak kesehatan akibat penggunaan sepatu kekecilan", penggunaan sepatu kekecilan juga berisiko menyebabkan perubahan bentuk kaki. Tekanan yang terus terjadi dapat memicu deformasi seperti bunion (benjolan di sisi jempol kaki) maupun hammer toes, yaitu kondisi jari kaki melengkung tidak normal.
Dampak lain yang tak kalah penting adalah gangguan pada sendi dan tulang. Kaki yang tertekan dalam ruang sempit akan menanggung beban yang tidak merata, sehingga berpotensi menimbulkan nyeri sendi hingga memicu radang sendi (arthritis).
Sepatu yang terlalu ketat juga dapat menghambat sirkulasi darah di area kaki. Kondisi ini ditandai dengan munculnya rasa kebas, kesemutan, hingga penurunan fungsi jaringan jika terjadi dalam jangka panjang.
Lebih jauh, pijakan kaki yang tidak stabil akibat sepatu sempit dapat memengaruhi postur tubuh. Tubuh cenderung menyesuaikan posisi berjalan secara tidak alami, yang pada akhirnya berpotensi memicu nyeri pada punggung dan pinggul.
Tekanan berlebih pada telapak kaki juga dapat menyebabkan plantar fasciitis, yaitu peradangan jaringan yang menghubungkan tumit dengan jari kaki. Kondisi ini umumnya ditandai dengan nyeri tajam, terutama saat berdiri setelah periode istirahat.
Kasus di Samarinda menjadi pengingat bahwa pemilihan alas kaki tidak bisa dipandang remeh. Sepatu yang sesuai ukuran bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga bagian penting dari menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Sebelumnya, seorang pelajar SMK di Samarinda, Kaltim, Mandala Rizky Syaputra (16), meninggal dunia setelah mengalami sakit yang berawal dari penggunaan sepatu sekolah yang kekecilan. Peristiwa ini menyisakan duka mendalam sekaligus menyoroti kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas.



