Pengembangan temuan gas di Kalimantan Timur diarahkan terhubung dengan Kilang LNG Bontang.
Selasa, 21 April 2026 17:06 WITA
EKSPOSKALTIM, Samarinda – Temuan gas bumi berkapasitas besar di lepas pantai Kalimantan Timur diarahkan untuk memperkuat peran Kilang LNG Bontang sebagai simpul utama pengolahan gas nasional.
Pemerintah mengumumkan cadangan baru dari Sumur Geliga-1 di Blok Ganal dengan potensi mencapai ribuan triliun kaki kubik gas serta sekitar 300 juta barel kondensat. Pengembangan lapangan ini disiapkan terintegrasi dengan infrastruktur yang telah ada di Kalimantan Timur.
Menteri Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa strategi pengembangan tidak hanya berfokus pada eksplorasi, tetapi juga percepatan produksi melalui pemanfaatan fasilitas eksisting.
“Setelah eksplorasi, mereka akan masuk ke tahap pengembangan dan memanfaatkan fasilitas yang ada untuk mempercepat produksi,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, dikutip Selasa (21/4).
Sumur Geliga-1 berada di Wilayah Kerja Ganal yang dioperasikan Eni dengan kepemilikan 82 persen, sementara 18 persen lainnya dimiliki Sinopec. Pengembangan lapangan ini akan terhubung dengan proyek North Hub yang menggunakan fasilitas terapung (Floating Production Storage and Offloading/FPSO) baru dengan kapasitas sekitar 1 miliar kaki kubik gas per hari dan 90.000 barel kondensat per hari.
Gas hasil produksi dari proyek tersebut direncanakan akan dialirkan ke fasilitas pengolahan yang sudah tersedia, termasuk Kilang LNG Bontang, guna mempercepat monetisasi temuan serta meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
Selain Geliga, pemerintah juga mencatat temuan di Sumur Gula dengan potensi sekitar 2 triliun kaki kubik gas dan 75 juta barel kondensat. Kombinasi kedua sumur ini diperkirakan mampu menambah produksi hingga sekitar 1.000 MMSCFD gas dan 90.000 barel kondensat per hari.
Bahlil menjelaskan produksi gas dari proyek yang dikelola Eni diproyeksikan meningkat signifikan dalam beberapa tahun ke depan, dari kisaran 600–700 MMSCFD saat ini menjadi sekitar 2.000 MMSCFD pada 2028, dan terus naik hingga 3.000 MMSCFD pada 2030.
Pemerintah mendorong agar temuan ini segera masuk tahap pengembangan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih cepat melalui peningkatan investasi, pembukaan lapangan kerja, serta penguatan pasokan energi nasional.
Dengan integrasi tersebut, Kilang LNG Bontang diproyeksikan kembali memainkan peran strategis dalam rantai pasok gas Indonesia, seiring meningkatnya produksi dari kawasan Cekungan Kutai.



