EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan kondisi cuaca di Kalimantan Timur yang kontras pada akhir Maret ini. Di satu sisi berpotensi hujan, namun di sisi lain memicu kemunculan ratusan titik panas yang meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Prakirawan BMKG, Lintang Alya, menyebutkan hujan ringan diprakirakan terjadi di Samarinda dan sejumlah wilayah lain di Indonesia pada Minggu (29/3). Namun, kondisi panas dalam beberapa hari terakhir justru memicu lonjakan titik panas di wilayah Kaltim.
Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Stasiun Balikpapan, Carolina Meylita Sibarani, mengatakan suhu panas yang terjadi sejak Idul Fitri pekan lalu menjadi pemicu utama munculnya hotspot.
“Cuaca dalam beberapa hari terakhir sejak Idul Fitri pekan lalu memang panas. Kondisi ini kemudian memicu munculnya banyak titik panas,” ujarnya.
BMKG mencatat, pada Jumat (27/3) sejak pukul 01.00 hingga 24.00 Wita, terdapat 171 titik panas yang tersebar di enam kabupaten dan kota di Kalimantan Timur.
Sebaran titik panas tersebut meliputi Balikpapan dua titik, Bontang tiga titik, Paser 10 titik, Kutai Timur sebanyak 125 titik, menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, Kutai Kartanegara 20 titik, serta Berau 11 titik.
Di tengah kondisi ini, BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, seperti membakar sampah sembarangan atau membuang puntung rokok yang masih menyala.
Selain itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) diminta segera melakukan pengecekan lapangan terhadap titik panas yang terdeteksi.
“Tim dari BPBD bersama unsur terkait saat datang ke lokasi biasanya sudah bisa memastikan apakah titik panas ini rawan menyebabkan karhutla atau tidak. Jika rawan, maka mereka langsung melakukan penanganan,” kata Carolina.
BMKG juga mendorong pemerintah daerah melalui dinas terkait, seperti pertanian, perkebunan, dan pemadam kebakaran, untuk meningkatkan imbauan kepada petani dan pekebun guna mencegah terjadinya karhutla.


