Rentetan bencana sepanjang 2025 meninggalkan kerusakan besar di Kalimantan Timur. Lebih dari 40 ribu rumah terdampak, puluhan nyawa melayang, dan Samarinda mencatat jumlah kejadian tertinggi di provinsi ini.
EKSPOSKALTIM, Samarinda — Sepanjang 2025, Kalimantan Timur dilanda bencana bertubi-tubi yang berdampak langsung pada permukiman warga. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim mencatat sebanyak 40.180 rumah mengalami kerusakan akibat berbagai kejadian bencana alam dan kebakaran pemukiman.
Kepala BPBD Kaltim, Buyung Budi Purnomo, menyebut kerusakan hunian tersebut sejalan dengan dominasi bencana hidrometeorologi serta tingginya kasus kebakaran di kawasan padat penduduk. “Banjir dan kebakaran pemukiman menjadi dua bencana paling sering terjadi sepanjang tahun lalu,” ujar Buyung di Samarinda, Selasa (14/1), dikutip dari antara.
Rekapitulasi BPBD menunjukkan total 527 kejadian banjir dan kebakaran terjadi dalam setahun. Kota Samarinda tercatat sebagai wilayah paling rawan dengan 232 insiden, atau sekitar 27 persen dari total bencana di tingkat provinsi.
Ancaman paling serius datang dari tanah longsor. Di Samarinda saja, tercatat 114 kejadian longsor yang sebagian besar terjadi di kawasan perbukitan dengan kepadatan permukiman tinggi, menempatkan ribuan warga dalam kondisi rawan.
Dampak bencana tidak berhenti pada rumah tinggal. Sebanyak 132 kios dan ruko yang menjadi sumber penghidupan masyarakat kecil dilaporkan rusak. Infrastruktur publik pun ikut terdampak, termasuk 59 fasilitas pendidikan serta sekitar 23,46 kilometer ruas jalan.
Berdasarkan perhitungan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops), total kerugian materiil akibat bencana sepanjang 2025 mencapai Rp40,79 miliar. Lebih dari itu, bencana juga menelan korban manusia. Sebanyak 79 orang meninggal dunia dan 22 lainnya dinyatakan hilang.
Lonjakan kejadian paling tajam terjadi pada April 2025, ketika 148 insiden tercatat hanya dalam satu bulan, menandai periode paling kritis sepanjang tahun.
Menghadapi situasi tersebut, BPBD Kaltim menyebut tengah memetakan ulang zona rawan banjir dan longsor, khususnya di Samarinda dan Balikpapan. Upaya ini disebut penting untuk menekan risiko korban dan kerusakan pada tahun berjalan.
Kebakaran permukiman menjadi perhatian tersendiri, mengingat jumlahnya mencapai 259 kejadian atau menempati posisi kedua terbanyak. Masyarakat diimbau lebih waspada terhadap instalasi listrik rumah tangga, yang kerap menjadi pemicu kebakaran di kawasan padat.
“Sepanjang tahun lalu, sebanyak 162.913 warga terdampak bencana. Ini menjadi pengingat bahwa evaluasi sistem penanggulangan, terutama banjir perkotaan, sudah mendesak,” kata Buyung.



