Pemanfaatan gasifikasi bisa jadi cara Kaltim keluar dari jebakan ketergantungan pada ekspor mentah dan sekaligus mendukung kemandirian energi nasional.
Samarinda, EKSPOSKALTIM - Kalimantan Timur bukan sekadar penghasil batu bara terbesar di Indonesia. Tapi sampai hari ini, provinsi ini masih terjebak pada nasib lama: gali, angkut, kirim.
Akademisi Universitas Mulawarman, Agus Winarno, mengingatkan bahwa melimpahnya batu bara kalori rendah justru bisa jadi pintu keluar dari pola ekspor mentah yang bikin daerah ini bergantung pada tambang.
"Potensi batu bara kalori rendah-sedang di Kalimantan Timur sangat besar serta bisa dikembangkan dengan proses gasifikasi untuk mendukung hilirisasi batu bara," kata Agus dari Center of Excellence for Tropical Studies Unmul di Samarinda, Kamis (30/10).
Agus menyebut Kaltim menyimpan 11,87 miliar ton cadangan batu bara atau 37,14 persen dari total nasional. Sekitar 75 persen di antaranya berkategori kalori rendah, jenis yang selama ini dianggap kurang berharga, padahal cocok untuk teknologi gasifikasi.
"Salah satu teknologi yang paling prospektif untuk batu bara kalori rendah adalah gasifikasi," ujarnya.
Gasifikasi mengubah batu bara jadi gas sintetik (syngas), bahan baku berbagai produk bernilai tinggi seperti metanol, DME, amonia, hingga hidrogen.
Ia menilai inilah peluang Kaltim memulai lompatan baru. Sejumlah proyek sudah disiapkan, seperti Coal to Methanol oleh PT KPC dan PT KNC di Bengalon yang bisa menghasilkan 1,8 juta ton metanol per tahun, Coal to Ammonia oleh PT Kideco Jaya Agung dengan target 100 ribu ton amonia, serta pabrik semi kokas oleh PT Multi Harapan Utama berkapasitas 500 ribu ton per tahun.
Timnya di Unmul pun telah meneliti batu bara dari Formasi Balikpapan dan Formasi Pulau Balang, dengan hasil kandungan maseral reaktif di atas 83 persen, cukup untuk dikonversi menjadi gas.
Agus menekankan pemanfaatan gasifikasi bisa jadi cara Kaltim keluar dari jebakan ketergantungan pada ekspor mentah dan sekaligus mendukung kemandirian energi nasional.
"Pemanfaatan optimal teknologi gasifikasi batu bara pada akhirnya akan mendukung kemandirian energi bangsa dari impor bahan bakar," katanya.


