Bontang, EKSPOSKALTIM – Pemerintah Kota Bontang menggelar pelatihan guru dan tenaga pendidik bagi penyandang disabilitas sensorik pada 2–3 Agustus 2025. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan inklusi di kota tersebut.
Pelatihan digelar di Aula Hotel Andika, Kelurahan Berbas Tengah, dan melibatkan kerja sama dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI), PKPK Indonesia, serta Badan Amil Zakat Nasional.
Sebanyak 33 peserta mengikuti pelatihan, termasuk guru Sekolah Luar Biasa, komunitas tuli, serta perwakilan lembaga pendidikan dari Bontang dan Sangatta.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menyebut kegiatan ini sebagai momen bersejarah karena pertama kali digelar di Kalimantan Timur. Ia menekankan pentingnya memberikan ruang belajar keagamaan yang setara bagi penyandang disabilitas.
Perwakilan Pimpinan Pusat DMI juga menyampaikan apresiasi atas komitmen Pemkot Bontang. Pelatihan ini dinilai paling istimewa karena mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah dalam menjadikan masjid sebagai ruang belajar inklusif.
“Kita memiliki 970 data geospasial anak disabilitas di Kota Bontang. Namun sebagian sudah pindah atau meninggal, tersisa 771 anak, termasuk tuna netra, tuna rungu, dan tuna wicara. Hari ini kita mendapat pelatihan dari DMI Pusat, yaitu training of trainers bahasa isyarat Al-Qur’an sensorik bagi tuna rungu wicara,” jelas Neni, Sabtu (2/8).
Ia berharap pelatihan ini bisa berkelanjutan karena jumlah penyandang disabilitas masih banyak, sementara baru 33 peserta yang ikut pelatihan.
“Mereka berhak mendapatkan perhatian lebih dari berbagai sektor, termasuk keagamaan,” tutupnya.

