Kandangan, EKSPOSKALTIM – Fakta demi fakta mulai terungkap dari kasus penemuan jasad tanpa kepala yang diduga menjadi korban bentrok antar-desa di Muara Ulang, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).
Fakta pertama, terkuak alasan Jumaidi (40) mendatangi lokasi bentrok yang dipicu sengketa tapal batas. Ia datang lengkap dengan mandau tersarung kabarnya untuk menolong sang adik ipar.
Nyatanya, malam itu Jumaidi tidak berhasil bertemu dengan adiknya. Ia justru bertemu dengan tiga orang diduga dari desa tetangga. Diduga hendak menyerang, ketiganya lalu melakukan penyerangan terhadap Jumaidi.
Fakta kedua, ternyata Jumaidi bukan satu-satunya korban. Seorang rekannya, Andri, juga mengalami luka di tangan akibat senjata tajam.
"Iya, benar ada korban kedua," jelas Kasi Humas Polres HSS, AKP Purwadi.
Jumaidi meninggalkan seorang istri dan tiga anak yang salah satunya masih balita. Sang istri kini berharap kepolisian bisa segera menemukan kepala suaminya.
"Saat ini kami masih melakukan pencarian dan berupaya menemukan pelaku," tambah Purwadi.
Untuk mencegah bentrok susulan, aparat menurunkan personel Satsabhara ke lokasi guna memantau situasi. Pihak Polda Kalsel juga ikut turun menangani. "Kami terus berupaya untuk mencegah bentrok susulan," jelasnya. Kepolisian juga mengakui kasus sengketa tapal batas ini jadi atensi mereka meski sampai kini belum ditemukan titik terang penyelesaian.
"Ini melibatkan dua wilayah," jelasnya.
Mayat pria tanpa kepala itu ditemukan warga di tepi sungai pada Sabtu pagi (31/5). Malam sebelumnya, Jumat (30/5), terjadi bentrokan antar kelompok di perbatasan Desa Muara Ulang (Kabupaten HSS) dan Desa Kundan, Kecamatan Hantakan (Kabupaten Hulu Sungai Tengah).
Seorang kerabat korban mengaku sempat melihat perkelahian hanya berjarak sekitar tiga kilometer dari rumah mereka. Jumaidi yang membawa mandau dan kumpangnya sempat datang ke lokasi, namun tak pernah kembali.
Ia ditemukan dengan luka bacok dan tusuk, serta sebilah mandau yang masih menancap di tubuhnya.
"Paman saya dikeroyok oleh puluhan orang," ujar kerabat tersebut.
Jumaidi dikenal sebagai petani, mualaf, dan ayah dari tiga anak. Sosoknya dikenal pendiam dan aktif mengikuti majelis taklim serta kegiatan shalawat di wilayah HSS.
Hasil penyelidikan awal kepolisian memperkuat dugaan bahwa ia tewas akibat dikeroyok.
"Pelaku diduga lebih dari satu orang," kata Purwadi.

