PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Pesona Abadi Taman Nasional Kutai: Menyapa Ulin Seribu Tahun

Home Berita Pesona Abadi Taman Nasion ...

Pesona Abadi Taman Nasional Kutai: Menyapa Ulin Seribu Tahun
Tujuh peserta 'Jurnalism Field Trip' Taman Nasional Kutai mencoba mengukur pohon ulin tersesar di dunia dengan cara melingkar. Foto: Antara

EKSPOSKALTIM, Sangata - Di jantung Kalimantan Timur, terbentang hijau memukau Taman Nasional Kutai (TNK). Kawasan konservasi ini tak hanya menyimpan kekayaan hayati, tapi juga menyimpan kisah panjang ekosistem tropis yang telah hidup berdampingan dengan waktu.

Lebih dari sekadar hutan hujan tropis, TNK adalah rumah bagi flora dan fauna endemik yang dilindungi, lanskap menawan, sekaligus saksi bisu perjalanan ekologis Kalimantan. Salah satu ikon terbesarnya? Pohon ulin raksasa yang telah berdiri kokoh selama lebih dari seribu tahun—sang legenda hutan, hidup di tengah belantara yang semakin terdesak zaman.

Ulin: Sang Penjaga Zaman

Ulin (Eusideroxylon zwageri), yang dikenal luas sebagai kayu besi Kalimantan, bukan sekadar pohon. Pertumbuhannya lambat, nyaris tak terasa dari tahun ke tahun, namun keberadaannya menandai keutuhan hutan yang masih asli dan utuh.

Di kawasan Jungle Park Sangkima, salah satu destinasi favorit TNK, jalur trekking sepanjang lima kilometer membawa pengunjung menyusuri keindahan tropis nan hijau. Selama libur lebaran, ratusan wisatawan menjejakkan kaki di jalur ini, menyelami aroma tanah basah, mendengar gemericik air sungai, dan menyeberangi jembatan kayu ulin yang menggantung dramatis di atas aliran sungai Sangkima.

Namun klimaks dari perjalanan ini tak lain adalah momen ketika berdiri tepat di hadapan pohon ulin raksasa yang ditemukan pada 1993. Diameternya saat itu 2,42 meter, dan kini—tiga dekade kemudian—telah mencapai 2,52 meter. Pertumbuhannya yang lambat justru jadi penanda betapa tuanya ia: diperkirakan berusia lebih dari seribu tahun.

Menatap batangnya yang menjulang, sulit untuk tidak merasa kecil. Pohon ini seakan menjadi monumen hidup, mengamati perubahan hutan dan manusia dari masa ke masa.

Tantangan Trekking dan Pesona Alam

Trekking di Jungle Park bukan hanya soal berjalan kaki. Ada Tanjakan Meranti yang siap menguji stamina, dan Jembatan Sling yang bergoyang seru saat dilintasi. Di sepanjang jalur, pos rehat disiapkan sebagai tempat bersantai, mengisi tenaga, dan menikmati ketenangan hutan.

Tak jauh dari sana, sebuah rumah pohon berdiri di antara rimbunnya dedaunan. Dari atas sini, hamparan hutan terlihat megah, menyadarkan kita akan pentingnya menjaga paru-paru dunia yang tersisa.

Taman Nasional Kutai tak lahir dalam semalam. Ceritanya dimulai sejak 1932, saat Pemerintah Hindia Belanda menetapkannya sebagai Wildreservaat Koetai seluas dua juta hektare. Ini menjadi awal pengakuan resmi atas nilai ekologis kawasan.

Empat tahun kemudian, statusnya naik menjadi Suaka Margasatwa Kutai dengan luas 190.000 hektare, berdasarkan keputusan Kerajaan Kutai. Tapi luas kawasan ini sempat berubah-ubah—naik ke 306.000 hektare pada 1957, lalu menyusut menjadi 200.000 hektare di 1971, mengikuti kebutuhan pembangunan dan tata ruang masa itu.

Era baru dimulai pada 1982, ketika wilayah ini ditetapkan sebagai calon taman nasional. Baru pada 1991, kawasan ini resmi menjadi Taman Nasional Kutai seluas 198.629 hektare melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan.

Tak hanya status, TNK juga memulai babak penting lewat program reintroduksi orang utan, spesies kunci Kalimantan yang tengah menghadapi ancaman kepunahan.

Hingga kini, pemerintah terus melakukan pengukuhan batas kawasan—terakhir pada 1995 dan 1997—untuk menjaga integritasnya dari ancaman luar. TNK juga menjadi bagian penting dalam Koridor Keanekaragaman Hayati Penanjung Kutai sejak 2013, lalu diperluas hingga mencakup Kalimantan Timur dan Utara pada 2014.

Dari Konservasi ke Pariwisata Berkelanjutan

TNK bukan hanya kawasan pelestarian. Sejak 2021, taman nasional ini ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Artinya, selain menjaga alam, TNK juga menjadi destinasi wisata berbasis edukasi dan konservasi.

Namun, tantangan tetap ada. Revisi RTRW Provinsi Kalimantan Timur 2024 menyatakan pengurangan sekitar 400 hektare dari luas TNK—kebanyakan berada di kawasan permukiman yang memang sudah ada di dalam taman. Balai TNK terus memastikan kebijakan ini tidak mengganggu fungsi utama kawasan.

Menurut Budi Isnaini, Kepala Seksi Pengelolaan TNK Wilayah I Sangatta, perbedaan TNK dengan hutan lindung biasa terletak pada cakupan fungsinya. Jika hutan lindung fokus pada fungsi hidrologis dan tanah, maka taman nasional mencakup perlindungan satwa liar, habitat langka, dan pemanfaatan tradisional secara terbatas.

“Ambil contoh, masyarakat hanya boleh mengambil rotan untuk kebutuhan pribadi, itu pun terbatas,” ujarnya.

TNK juga dibagi menjadi beberapa zona pengelolaan: zona inti (tanpa intervensi manusia), zona rehabilitasi (untuk memulihkan ekosistem rusak), zona pemanfaatan (untuk wisata dan kegiatan tradisional), serta zona penyangga yang melindungi kawasan utama dari tekanan luar.

Meskipun kini luasnya sedikit berkurang, fungsi utama TNK sebagai benteng pelindung keanekaragaman hayati tetap tidak tergoyahkan. Di tengah laju deforestasi global dan tekanan pembangunan, TNK berdiri sebagai pengingat bahwa hutan bukan hanya sumber daya—tapi juga warisan tak ternilai yang harus dijaga bersama.

Taman Nasional Kutai bukan sekadar hutan yang dilestarikan, melainkan simbol perlawanan terhadap kepunahan, ruang belajar tentang kehidupan, dan tempat bernaung bagi alam dan manusia yang ingin kembali mengenal bumi.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :