EKSPOSKALTIM, Paser - Tragedi berdarah mengguncang Dusun Muara Kate, Kecamatan Muara Komam, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, Jumat dini hari, 15 November 2024.
Dua warga yang berjaga di pos penolakan angkutan batu bara diserang oleh orang tak dikenal. Russel (60) tewas dengan luka sayatan di leher, sementara rekannya, Anson (55), mengalami luka serius dan kini dalam kondisi kritis di rumah sakit.
Kejadian ini mengejutkan masyarakat setempat yang selama ini menentang penggunaan jalan umum oleh truk tambang batu bara. Mereka telah lama mengeluhkan dampak negatif aktivitas tambang, termasuk kecelakaan lalu lintas yang merenggut korban jiwa.
Sebelumnya, dua nyawa lebih dulu melayang akibat insiden kecelakaan. Pertama pada Mei 2024 menelan nyawa seorang pengendara bernama Teddy. Jasad ustaz muda yang baru menikah ini ditemukan di pinggir jalan kawasan Songka, Batu Sopang. Diduga ia menjadi korban tabrak lari truk batu bara yang nyelonong ke jalan raya.
Berselang Oktober 2024, kecelakaan di tanjakan Marangit merenggut nyawa Veronika. Pendeta muda satu ini tewas setelah terlindas truk batu bara yang tak kuat menanjak.
Kronologi Kejadian
Menurut keterangan warga, serangan terjadi sekitar pukul 02.30 WITA. Saat itu, Russel dan Anson tengah tidur di posko penolakan truk tambang. Seorang saksi yang enggan disebutkan namanya mengatakan ia sempat mendengar suara gaduh dari arah posko.
"Saya dengar suara seperti orang berkelahi, tapi pas saya keluar rumah, sudah sepi. Baru pagi harinya kami temukan Russel sudah meninggal dan Anson terluka parah," kata saksi mata tersebut.
Ketika ditemukan, Russel sudah tidak bernyawa dengan luka menganga di lehernya. Sedangkan Anson masih bernapas meski berlumuran darah. Warga segera membawa Anson ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan medis.
Kecurigaan Warga
Hingga kini, motif di balik pembunuhan ini masih menjadi tanda tanya besar. Namun, warga setempat mencurigai adanya keterkaitan dengan aksi penolakan truk tambang yang selama ini mereka lakukan.
"Kami sudah lama menolak truk tambang lewat sini karena sering menimbulkan kecelakaan. Sekarang tiba-tiba ada warga yang dibunuh di pos jaga. Kami curiga ini bukan kejadian biasa," ujar warga Muara Kate lainnya.
Apalagi sebelum kejadian ini, sempat ada ancaman terhadap warga yang aktif menolak jalur tambang. Beberapa di antaranya bahkan mengaku menerima intimidasi dari orang-orang tak dikenal.
Polisi Buru Pelaku, Komnas HAM Turun Tangan
Pihak kepolisian, baik dari Polres Paser maupun Polda Kalimantan Timur, telah membentuk tim khusus untuk mengusut kasus ini. Namun, hingga kini, belum ada tersangka yang ditetapkan.
"Sabar. Anggota masih terus bekerja di lapangan,” kata Kapolres Paser AKBP Novy Adhi Wibowo. Sejauh ini sudah 21 saksi diperiksa. Namun tak didapati petunjuk yang mengarah ke sosok pelaku.
Sementara itu, Komnas HAM turut memantau kasus ini dan mendesak aparat kepolisian untuk segera mengungkap dalang di balik tragedi tersebut.
"Ini bukan sekadar kasus kriminal biasa. Ada indikasi kuat bahwa kejadian ini berkaitan dengan konflik sosial dan lingkungan yang sudah lama terjadi di Muara Kate. Kami akan terus mengawal kasus ini," ujar Anis Hidayat, perwakilan Komnas HAM.
Desakan LBH
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Samarinda mendesak Kapolda Kaltim yang baru, Endar Priantoro segera menuntaskan tragedi Muara Kate.
"Hampir genap 4 bulan belum ada kejelasan siapa dalang atau pelakunya kami berharap Polri bisa mengungkapnya," jelas advokat LBH Samarinda, Irvan, Kamis (13/3).
Irvan mengingatkan agar polisi tak lupa bahwa latar pembunuhan berkelindan dengan maraknya aktivitas angkutan batu bara di atas jalan negara. Saban hari, bisa sampai 700 truk melintasi jalan negara, merusak jalan dan membahayakan keselamatan pengendara umum. Ini, kata Irvan, terjadi tak hanya di Paser, tapi juga nyaris di seluruh wilayah Kaltim.
Praktik hauling menggunakan jalan negara sejatinya melabrak Perda Kaltim Nomor 10 Tahun 2012. Tumpulnya penegakan hukum membuat warga nekat melakukan sweeping secara mandiri.
"Jangan menunggu warga lain yang menjadi korban," jelasnya.
Kapolri Listyo Sigit mengangkat Direktur Penyelidikan KPK, Brigjen Endar Priantoro menjadi Kapolda Kaltim. Dengan promosi jabatan ini, otomatis Endar akan naik pangkat menjadi jenderal bintang dua.
Endar menggantikan Nanang Avianto yang menjabat sejak 2023. Nanang mendapat promosi menjadi Kapolda Jawa Timur.
Kritik terhadap Mutasi Nanang
Analis kepolisian Institute for Security and Strategic Studies menyayangkan mutasi di tengah mandeknya penyelesaian tragedi Muara Kate ini.
"Menjadi Kapolda Jatim itu malah promosi," jelasnya, Kamis sore (13/3).
Jatim memiliki tipe Polda yang lebih tinggi. Semua Polda di Jawa bertipe A+. Kecuali Banten dan DIY. Tipe mengacu pada jumlah penduduk yang kemudian diselaraskan dengan rasio jumlah polisi. Sedangkan Kaltim bertipe A.
Mutasi Nanang, kata Rukminto, seperti mengonfirmasi belum maksimalnya sistem promosi di tubuh Polri. Bahkan terkesan mengabaikan rekam jejak terkait problem yang dikeluhkan masyarakat. "Kritik pada Polri masih dianggap gonggongan anjing saja, sementara kafilah tetap berlalu," jelasnya.
"Kapolri menyatakan tidak anti-kritik, tetapi juga bergeming dengan keputusan-keputusannya tanpa melakukan perbaikan," sambungnya.
Rukminto pun meminta publik tak usah berekspektasi terlalu tinggi pada Polri selama tidak ada perubahan yang lebih substansial. "Yang bisa mengubahnya hanya Presiden," jelasnya.

