Alih-alih tewas tenggelam saat melarikan diri, tiga polisi yang gugur dalam operasi narkoba di Katingan diduga dibunuh setelah dikejar massa yang terprovokasi teriakan "perampok".
EKSPOSKALTIM, Katingan – Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mengungkap rangkaian fakta baru dalam tragedi yang menewaskan tiga anggota Satresnarkoba Polres Katingan saat operasi penggerebekan bandar narkoba di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kalimantan Tengah.
Selain menduga para korban tidak meninggal akibat tenggelam, Kompolnas kini mengungkap bahwa kericuhan yang berujung maut tersebut diduga dipicu teriakan provokatif dari keluarga target operasi yang menyebut petugas sebagai "perampok". Teriakan itu memancing kedatangan massa hingga berujung pengejaran terhadap anggota polisi yang sedang bertugas.
Komisioner Kompolnas Mochammad Choirul Anam mengatakan timnya telah melakukan pengecekan langsung di sejumlah titik lokasi kejadian, mempelajari hasil autopsi, serta meminta keterangan dari aparat desa, tokoh masyarakat, dan warga sekitar.
Menurut Anam, saat penggerebekan berlangsung, personel Polres Katingan telah menjalankan prosedur sesuai standar, termasuk memperkenalkan diri dan menunjukkan surat tugas resmi.
"Ketika petugas datang sudah sesuai SOP dan menunjukkan surat tugas resmi. Namun pihak keluarga target operasi justru meneriaki petugas dan mengatakan petugas merupakan perampok," kata Anam di Mapolda Kalimantan Tengah, Selasa (8/7/2026).
Teriakan tersebut kemudian memancing kedatangan warga yang disebut merupakan keluarga dan kerabat dekat bandar narkoba yang menjadi target operasi.
Situasi dengan cepat berubah menjadi kericuhan. Sejumlah anggota polisi mengalami luka akibat serangan yang terjadi. Untuk menghindari jatuhnya korban lebih banyak, personel memilih mundur dan menyelamatkan diri ke arah Sungai Katingan.
"Dalam kericuhan itu ada personel yang mengalami luka-luka sehingga mereka melarikan diri dengan berenang ke sungai," ujarnya.
Menurut Kompolnas, para anggota sempat berenang sekitar 500 meter sebelum kembali mencapai daratan. Namun pengejaran tidak berhenti.
Kelompok pelaku beserta keluarga dan kerabatnya diduga terus memburu para personel meski mereka telah menjauh dari lokasi awal penggerebekan.
"Hingga kejadian itu membuat tiga orang personel meninggal dunia. Berdasarkan hasil penyelidikan, korban meninggal di darat, kemudian dibuang ke sungai," tegas Anam.
Ceceran Darah Bantah Dugaan Tenggelam
Temuan tersebut memperkuat dugaan Kompolnas yang sebelumnya menyatakan ketiga korban tidak meninggal karena tenggelam.
Komisioner Kompolnas Supardi Hamid mengungkapkan pihaknya menemukan ceceran darah yang mengarah hingga ke sungai tempat para korban ditemukan.
Menurutnya, temuan tersebut membantah asumsi awal bahwa para anggota polisi tewas akibat hanyut atau tenggelam saat melarikan diri.
"Tesis bahwa para korban ini melarikan diri ke sungai dan kemudian mati tenggelam adalah tidak terbukti. Justru terbantahkan dari fakta di sini di mana kita menemukan ceceran darah yang kemudian berakhir di sungai," kata Supardi.
Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, Kompolnas menduga ketiga korban terlebih dahulu mengalami kekerasan hingga meninggal dunia sebelum akhirnya dibuang ke sungai.
"Artinya ini secara jelas masuk ke dalam kategori intentionally killing yang dilakukan oleh para bandar narkoba ini untuk menghabisi para petugas kepolisian dan baru kemudian dibuang ke sungai," ujarnya.
Rekam Jejak Keluarga Pelaku Disorot
Dalam penelusuran sosial yang dilakukan Kompolnas, keluarga target operasi disebut memiliki rekam jejak yang kurang baik di lingkungan sekitar.
Anam mengatakan sejumlah warga mengaku kerap mengalami intimidasi dari kelompok tersebut, termasuk didatangi ke rumah sambil membawa senjata tajam.
Karena itu, setelah tragedi berdarah tersebut terjadi, perangkat desa, tokoh adat, hingga masyarakat sekitar justru menyampaikan apresiasi kepada kepolisian atas upaya penindakan terhadap jaringan narkoba di wilayah mereka.
"Banyak warga mengeluhkan perilaku keluarga tersebut. Ada yang mengaku rumahnya pernah didatangi sambil membawa parang dan melakukan intimidasi," ungkapnya.
Berawal dari Penggerebekan Bandar Sabu
Tragedi ini bermula setelah Satresnarkoba Polres Katingan menerima laporan masyarakat terkait dugaan peredaran sabu yang dikendalikan seorang residivis berinisial BIO.
Tim kemudian bergerak melakukan penggerebekan pada Kamis (2/7/2026) dini hari. Saat proses penangkapan berlangsung, petugas mendapat perlawanan menggunakan senjata tajam.
Meski telah melepaskan tembakan peringatan, serangan terus berlanjut. Situasi semakin tidak terkendali setelah keluarga target operasi dan sejumlah warga diduga ikut melakukan penyerangan menggunakan parang, senjata api rakitan, serta berbagai benda berbahaya lainnya.
Dalam insiden tersebut, sembilan personel berhasil dievakuasi. Sementara tiga anggota lainnya gugur saat menjalankan tugas.
Ketiga anggota Polri yang gugur adalah Ipda (Anumerta) Sumariyanto, Aiptu (Anumerta) Yudhie Perdana Putra, dan Briptu (Anumerta) Nopandri Ramadhana.
Kompolnas meminta Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Kalimantan Tengah menerapkan pasal-pasal terberat kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyerangan, baik pelaku yang melakukan kekerasan secara langsung maupun pihak yang diduga menggerakkan massa dalam tragedi tersebut.



