EKSPOSKALTIM.COM, Bontang – Para pegadang dan toko di Bontang merana. Pasalnya harga minyak goreng mengalami kenaikan. Bahkan kenaikannya hingga 8-10 ribu dalam kemasan 2 liter. Anehnya, itu berlaku dalam semua merek minyak goreng.
“Sudah dua minggu harganya naik. Biasa jual 30 ribu kini sampai 38 ribu. Itu berlaku semua merek minyak, mas,” terang Hardian pemilik toko Nadya saat ditemui, Jumat (26/11/2021) petang.
Baca juga : Luncurkan E-Samsat, Polres Bontang Permudah Masyarakat Bayar Pajak Kendaraan
Hardian mengaku, selain harga naik, untuk mendapatkan minyak juga dibatasi. Bahkan dalam dua pekan ini dirinya sudah melakukan pemesanan namun belum datang.
“Ngorder gak bisa ambil banyak. Stok gak ada,” sebutnya.
Meski begitu, kata dia, tingkat daya beli juga berkurang. Padahal biasa dalam sehari menghabisakan 3 dus. Kini hanya 1 dus saja.
“Itupun kadang gak sampai se-dus perhari,” terangnya.
Senada dengan Hardian, salah satu pedagang sembako Wyna juga mengeluhkan hal yang sama. Dirinya harus menaikan harga lantaran harga modal awal sudah cukup tinggi.
“Mau gak mau ya, harus naikkan. Karena modal aja sudah naik. Ini aja bisa naik sampai 10 ribu dalam setiap kemasan,” terangnya.
Terpisah, Kabid Ketahanan Pangan Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) Debora Kristiani menuturkan, kenaikan harga ini buntut dari bahan baku Crude Palm Oil atau CPO naik di dunia. Bahkan pengiriman atau ekspedisi juga mengalami kenaikan akibat imbas dari Pandemi Covid-19.
"Semua daerah mengalami kenaikan," sebutnya.
Namun dia pun berencana bakal menggelar operasi pasar untuk menekan harga jual minyak di pasaran. Bahkan kata dia, akan membuat pasar murah dengan mengandeng pemasok.
Baca juga : Buka Seminar Disabilitas, Najirah Tegaskan Persamaan Hak Dalam Pendidikan
"Kita gandeng pemasok dari Samarinda. Dia yang suplai barangnya. Untuk skemanya kita akan atur,” sebutnya.
Ia pun memperkirakan jika kenaikan harga ini akan bertahan hingga pasca perayaan Natal dan Tahun Baru.
“Paling awal 2022 sudah kembali turun,” pungkasnya.

