26 November 2020
  • PORTAL BERITA ONLINE
  • NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE
  • BERANI BEDA..!!
  • MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Kandungan Kunyit dan Temulawak Terbukti Bermanfaat Bagi Liver


Kandungan Kunyit dan Temulawak Terbukti Bermanfaat Bagi Liver
Zat aktif pada kunyit dan temulawak bermanfaat untuk kesehatan organ khususnya hati atau liver. (int)

EKSPOSKALTIM.COM, Jakarta - Masyarakat sudah lama mengenal bahan rempah dan bumbu dapur seperti temulawak dan kunyit. Ternyata kedua bahan-bahan ini mengandung sebuah zat aktif bernama Curcumin. Dan zat aktif ini bermanfaat untuk kesehatan organ khususnya hati atau liver. Termasuk mencegah penyakit hepatitis.

Temulawak adalah salah satu tanaman asli Indonesia dengan nama latin Curcuma Xanthorrhiza. Tanaman herbal ini mengandung zat aktif berupa Curcumin, yaitu senyawa berwarna kuning yang terkandung dalam temulawak. Begitu pula terkandung dalam kunyit yang sudah dipercaya oleh masyarakat Indonesia akan manfaatnya.

Baca juga : Tiga Genre Musik Ini Diprediksi Jadi Tren 2021

“Ektrak curcuma berupa ekstrak curcumae xanthorrhizae rhizoma dan piperin dengan bioavailabilitas yang lebih tinggi akan menghasilkan efek yang lebih maksimal. Ini membantu memperbaiki nafsu makan dan membantu memelihara kesehatan fungsi hati, serta ekstrak piperine untuk membantu meningkatkan bioavailabilitas cucurminoid,” kata VP Researceh and Development SOHO Global Health (Curcuma Force) Raphael Aswin Susilowidodo dalam Webinar, Rabu (21/10) dilansir dari Jawa Pos.com

Dokter spesialis penyakit dalam Prof. Dr. dr. I Dewa Nyoman Wibawa, Sp.PD – KGEH  menjelaskan, karena memiliki efek antiinflamasi serta antioksidan, kombinasi curcumin dan piperin bisa digunakan sebagai preventif (pencegahan) yang dapat dikonsumsi oleh pasien dengan risiko penyakit hati. Seperti pasien diabetes mellitus tipe 2 dan pasien dengan riwayat hepatitis agar kesehatan hatinya tetap terjaga.

Dia menjelaskan mekanisme hepatoprotektif terjadi karena efek curcumin sebagai antioksidan mampu menangkap ion superoksida dan memutus rantai antar ion superoksida (O2-). Sehingga mencegah kerusakan sel hepar.

Curcumin juga mampu meningkatkan gluthation S-transferase (GST) dan mampu menghambat beberapa factor proinflamasi seperti nuclear factor-?B (NF-kB) dan profibrotik sitokin. Aktifitas penghambatan pembentukan NF-kB merupakan faktor transkripsi sejumlah gen penting dalam proses imunitas dan inflamasi, salah satunya untuk membentuk TNF-α. Dengan menekan kerja NF-kB maka radikal bebas dari hasil sampingan inflamasi berkurang.

Baca juga : Tiongkok Berjanji Prioritaskan Vaksin Covid-19 Untuk Negara ASEAN

Sedangkan mekanisme kerja piperin adalah meningkatkan konsentrasi serum dan penyerapan curcumin. Sehingga menghambat glukuronidasi di hati dan usus kecil.

“Untuk preventif (pencegahan) boleh saja digunakan, jadi tidak perlu menunggu terjadi inflamasi hati, terutama pada pasien dengan risiko gangguan hati seperti pasien dengan riwayat hepatitis, diabetes mellitus tipe 2, atau pasien dengan kolesterol tinggi, karena konsumsi curcumin bisa menjaga fungsi hati,” katanya.

“Begitupun dengan pasien yang sudah mengalami gangguan hati seperti inflamasi, fatty liver ataupun fibrosis. Perlu konsumsi hepatoprotektor agar memperbaiki fungsi hati dan melindungi sel hati yang masih sehat agar tidak rusak,” jelas Prof. Wibawa.

Reporter : sumber: Jawapos.com    Editor : Abdullah

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%


Comments

comments


Komentar: 0