26 November 2020
  • PORTAL BERITA ONLINE
  • NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE
  • BERANI BEDA..!!
  • MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Opini : Self Healing, Proses Penyembuhan Luka Batin Untuk Menerima Diri Sendiri


Opini : Self Healing, Proses Penyembuhan Luka Batin Untuk Menerima Diri Sendiri
Lusi Feliana, Mahasiswi IAIN Samarinda Prodi Bimbingan Konseling dan Islam. (IST)

EKSPOSKALTIM.COM - Setiap manusia yang hidup melewati banyak keadaan. Entah itu keadaan yang membuat  senang, sedih, dan lain-lain.Kita juga pernah mengalami namanya patah hati. Salah satunya adalah patah hati karena penolakan. Entah di tolak oleh seseorang, organisasi, atau perusahaan.

Banyaknya luka akibat patah hati tersebut  dapat berdampak pada psikologis kita. Apa disini ada yang pernah berpikir seperti “aku tidak berguna, aku tidak pantas bahagia, aku terlalu bodoh”  dan pikiran lainnya yang mengatakan  bahwa kamu tidak ada artinya hidup di dunia ini?

Pemikiran seperti itu tadi dinamakan “self loathing” yang artinya kritik ekstrim terhadap diri sendiri. terlalu mengkritik diri sendiri menyebabkan kita tidak dapat menerima diri sendiri bahkan menjadi benci terhadap diri kita sendiri.

Baca Juga: Sempat Memanas, Akhirnya Mahasiswa Duduki Ruangan DPRD Bontang

Ada beberapa penyebab kenapa kita bisa punya luka psikologis dan membenci diri sendiri.

Yang pertama, karena kejadian yang menyakitkan atau trauma. Bisa trauma fisik, emosi, maupun seksual yang menyebabkan kita terluka terlalu dalam dan berdampak pada kehidupan sehari-hari.

Yang kedua, karena kita memilki ekspektasi yang terlalu tinggi. Ketika kita memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi padahal kenyataannya tidak sesuai dengan ekspektasi yang kita harapkan dan membuat kita terluka lalu sakit hati.

Yang ketiga, karena sifat perfeksionis, orang yang memiliki sifat perfeksionis ketika memiliki kekurangan yang kecil atau melakukan kesalahan yang kecil maka ia akan menyalahkan dirinya secara berlebihan dan menganggap itu sebuah kegagalan.

Yang ke empat, terlalu membandingkan diri dengan orang lain. Banyak orang yang terlalu membandingkan diri sendiri dan terlalu focus pada kehidupan orang lain serta mengabaikan dirinya sendiri.

Baca Juga: Teruskan Perjuangan Suami, Najirah Akui Banyak Dorongan Untuk Bangkit

Hal itu menjadikan kita tidak bersyukur atas pencapaian selama ini.

Seperti luka fisik, jika tidak diberi obat maka akan menyebabkan infeksi pada tubuh. Begitu pula pada luka batin, jika dibiarkan maka akan menimbulkan emosi-emosi negative yang bisa merusak kesejahteraan psikologis (well being) kita.

Untuk mengobati luka psikologis kita yang disebabkan karena tidak bisa menerima diri sendiri atau membenci diri sendiri, kita bisa bisa menyembuhkannya dengan self healing. 

Self healing adalah proses penyembuhan luka batin yang dilakukan oleh diri sendiri.

Untuk benci terhadap diri sendiri, self healing yang dapat diterapkan adalah self acceptance. Self acceptance berarti penerimaan diri secara keseluruhan terlepas dari kelebihan dan kekurangan kita. Ketika kita merasa memiliki luka batin, kita bisa mengatasinya dengan berfikir objektif dalam menilai diri sendiri.

Baca Juga: Opini : Politik Empati

Mencoba berfikir apakah benar kita tidak bisa menjadi lebih baik daripada sekarang. Pada kenyataannya kita bisa menjadi lebih baik lagi, hanya saja kita terlalu keras pada diri sendiri.

Hal pertama yang kita lakukan pada proses ini ialah kita harus menerima rasa sakit itu sendiri. Menerima bahwa kita terluka terlalu dalam. Tapi kita jangan berlebihan, kita tidak sendiri. Banyak orang diluar sana yang juga terluka seperti kita dan juga bangkit walaupun sangat susah.

Cara lain agar kita bisa menerima diri sendiri adalah dengan self distancing (menjaga jarak dengan diri sendiri). Maksudnya disini adalah menjaga jarak dengan pikiran atau emosi negative yang dikatakan oleh diri sendiri. Cara ini ialah dengan mengambil sudut pandang orang ketiga ketika menilai diri sendiri.

Baca Juga: Berlagak Jagoan Saat Ditegur, Pemuda Bontang Ini Terancam 10 Tahun Penjara

Seperti contoh kita mendapat nilai ujian dan nilainya sebenarnya juga baik. Teman kita mendapat nilai yang lebih tinggi lalu kita berpikir kenapa kita tidak mendapat nilai yang sama, dan berpikiran kalau kita terlalu bodoh, padahal kalau kita pikir kembali, nilai kita tidak buruk dan kalau ingin seperti teman kita, maka kita harus berusaha lebih lagi.

Namun terlepas dari semua itu, luka batin atau luka psikologis, proses penyembuhannya membutuhkan waktu dan mungkin juga tidak mudah. Tapi selama kita berusaha maka yakinlah kita pasti bisa sembuh nantinya.

Penulis : Lusi Feliana (Mahasiswi IAIN Samarinda Prodi Bimbingan Konseling dan Islam)

Artikel di atas menjadi tanggung jawab penulis, bukan redaksi EKSPOSKaltim.com

Reporter :     Editor : Abdullah

Apa Reaksi Anda ?

0%0%100%0%0%0%0%0%


Comments

comments


Komentar: 0